Tampilkan postingan dengan label Figur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Figur. Tampilkan semua postingan
Rabu, 22 Februari 2017
KH. Moh. Nasir Yasin (ASCHAL Edisi 16)
KH. Moh. Nasir Yasin;
Cucu Syaichona Moh. Cholil yang ‘Alim dan Khumul
Tidak semua kalangan mengenal
beliau. Bahkan konon ceritanya ketika sedang naik becak, si tukang becak justru
bercerita panjang lebar tentang kealiman Kiai Nasir tanpa sadar bahwa yang
diceritakan adalah penumpangnya. Begitulah Kiai Moh. Nasir Yasin, Cucu
Syaichona Moh. Cholil yang ‘alim dan khumul (law profil).
KH. Moh. Nasir hidup di lingkungan
pesantren Kepang, Bangkalan. Beliau lahir dari pasangan darah biru, yaitu Kiai
Yasin dan Nyai Asma binti Syaichona Moh. Cholil. Tidak ada keterangan pasti
tentang waktu kelahiran beliau. Menurut sebagian putranya, beliau lahir pada
tahun 1935 M. Hal ini berdasarkan bukti, bahwa di waktu mudanya beliau ikut
membereskan persenjataan Jepang yang menyerah tanpa syarat pada tentara
Inggris. Sedangkan peristiwa itu terjadi sekitar tahun 1945 M.
Nasir ramaja, adalah sosok lora
yang terbilang nakal, layaknya bukan putra seorang kiai dan cucu Syaichona Moh.
Cholil. Rambutnya gondrong, acap kali balapan dengan kereta api menggunakan
sepeda ontel, start di Kamal dan finish di Bangakalan. Bahkan, diriwayatkan
pula bahwa beliau pernah mabuk dan pinsan di pasar sebab terlalu banyak
mengkonsumsi soto.
Akhirnya, Kiai Yasin menyuruh Nasir
remaja untuk menempuh pendidikan di Makkah al-Mukarromah. Berguru kepada Syekh
Hasan al-Yamani dan Syekh Alawi al-Maliki. Di tanah kelahiran Rosulullah ini,
beliau banyak mengabdi (ngabuleh) kepada guru-gurunya, selain
rutinitas mengaji kepada mereka. Sejak saat itulah beliau tidak lagi tercatat
sebagai anak yang nakal.
Di Makkah, beliau rajin menuntut
ilmu dan tekun mengabdi kepada guru. Pengabdiannya dibuktikan dengan keikhlasan
beliau untuk tetap bertahan di Makkah, meski rekan-rekan beliau, termasuk Kiai
Cholil Yasin (kakak kandung Kiai Nasir), telah memilih untuk boyong.
Kiai Nasir memilih tetap di Makkah dengan
alasan masih ingin mengabdi. Selain itu, masih ada rasa berat hati untuk
meninggalkan sang guru. Karena beliaulah yang mengurusi kebutuhan dhalem
(kediaman) gurunya, mulai dari pelayanan sampai urusan putra-putra gurunya. Di
antara sahabat Kiai Nasir yang juga mondok di Makkah adalah KH. Hasan Iraqi
(Sampang), ulama yang terkenal sangat ‘alim di Madura, KH. Tajul Anwar
(Sambilengan Sampang), dan KH. Cholil Yasin, Kakak Kandung Kiai Nasir Yasin.
Beliau baru berkenan kembali ke
Bangkalan ketika dikabarkan bahwa Ayahanda beliau, Kiai Yasin telah wafat.
Beliau diperintah untuk pulang oleh gurunya, yaitu Syekh Hasan al-Yamani. Ada
yang unik dari proses kepulangan Kiai Nasir ke Bangkalan, yaitu beliau bisa
pulang tanpa perlu mengantongi paspor.
Usai menuntut ilmu di Makkah,
beliau melanjutkan rihlah ilmiyahnya di Siwulan Panji Buduran Sidoarjo. Tapi
hanya sebentar, karena niat beliau ke Siwulan dalam rangka tabbarukan saja.
Setelah dari Siwulan beliau baru
menikah, dan dikaruniai sebelas buah hati yaitu, KH. Moh. Cholil Nasir, KH.
Abd. Halim Nasir, KH. Moh. Yusuf Nasir, Nyai Nur Fathonah Nasir, KH. Makki
Nasir, KH. Ahmad Rahbini Nasir, Nyai Siti Fatimah Nasir, KH. Hasyim Asy’ari
Nasir, KH. Abd. Latif Nasir, KH. Abd. Mu’in Nasir, dan Nyai Tsurayya Nasir.
Masyhur ‘Alim tapi Enggan Mengajar
Pada mulanya, Kiai Nasir yang sudah
ditinggal wafat oleh ayahandanya masih berkenan meneruskan perjuangan sang
abah. Beliau masih mengajar para santri bersama Kiai Cholil Yasin di Pondok
Pesantren Al-Falah, Kepang. Namun hal itu tidak berlangsung lama, karena
sekitar tahun 70-an beliau pindah ke daerah Senenan (sekitar 1 Km di selatan
Kepang).
Masyhurnya kealiman Kiai Nasir,
membuat para santri waktu itu tetap ingin menimba ilmu pada beliau. Di kediaman
barunya, banyak juga para santri yang rutin mengaji kepada beliau, seperti
santri dari Kepang dan santri Demangan. Tapi pada akhirnya, -entah apa alasan
beliau- semua santri yang ngaji beliau usir. Mereka disuruh pindah oleh Kiai
Nasir seraya mengatakan, “Engkok tak mulangah. Mun Ngajhiyeh entar ke
Demangan Otabe ke Kepang” (saya tidak mau mengajar. Kalau ingin mengaji
silahkan ke Pondok Demangan atau Ke Pondok Kepang).
Kealiman Kiai Nasir dikenal banyak
kalangan, sekalipun sebatas melalui cerita dari mulut ke mulut. Padahal, banyak
di antara mereka yang tidak tahu sosok kiai Nasir sendiri, sebagaimana kisah
tukang becak tadi.
Cucu Syaichona Moh. Cholil yang khumul
Menjadi cucu dari seorang waliullah
yang kesohor di nusantara, tidak lantas membuat Kiai Nasir berbangga diri.
Justru beliau pernah berpesan kepada para salah satu putranya untuk tidak
mengandalkan garis keturunannya. Beliau mengibaratkan, bahwa beliau tak ubahnya
seekor kera berpayung emas. Maksudnya emas adalah sang kakek, yaitu Syaichona
Moh. Cholil.
Konon, suatu hari beliau melakukan
pekerjaan yang sangat beliau gemari, yaitu ziarah ke makan para wali. Waktu
itu, Kiai Nasir ziarah ke makam salah seorang waliyullah di Makam Luar Batang, Jakarta.
Tiba-tiba, ada seseorang yang sedang menunggu kedatangan beliau. Setelah kiai
Nasir tiba, orang itu berkata “Saya disuruh guru saya untuk menunggu
panjenengan. Apakah jenengan kiai Nasir?”.
Bukannya mengiyakan, bahkan kiai
Nasir menjawab pertanyaan orang tersebut dengan nada agak tinggi, “Saya bukan
Kiai Nasir, tapi Haji Nasir”. Beliau menolak untuk di panggil kiai. Namun orang
itu tetap bersikukuh dengan keyakinan awalnya, bahwa orang yang berdiri di
hadapannya adalah sosok Kiai Nasir Yasin dari Bangkalan. Akhirnya Kiai Nasir
marah-marah, “Saya bukan kiai Nasir, tapi cukup Haji Nasir!”.
Wafatnya Penyeimbang Bangkalan
Meski enggan untuk menampilkan
status diri ke permukaan, kiai Nasir tetap berperan penting menentukan situasi
dan masa depan Bangkalan. Peran yang dilakukan beliau bisa dikatakan rahasia
tapi tidak sederhana. Sebagai sesepuh Bangkalan, beliau sering mengarahkan
kiai-kiai Bangkalan untuk menempati posisi yang dianggap pas dan lebih
bermanfaat bagi masyarakat.
Konon, ketika Kiai Abdullah Schal,
yang tak lain adalah keponakan kiai Nasir sedang dihimpit permasalahan ekonomi,
Kiai Abdullah pernah berkeinginan untuk memilih bekerja dan mengikuti jejak
kiai Nasir menjadi pengusaha. Tapi Kiai Nasir melarang keinginan Kiai Abdullah.
Beliau meminta agar kiai Abdullah tetap istiqamah meneruskan perjuangannya
dengan mengajar di Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil, Demangan.
Kiai Nasir berpesan kepada Kiai
Abdullah “Jhe’ alakoh Kabbhi. Mun pas kaloar kabbhi sapah se mulangah e
dhelem?” (jangan bekerja semua. Kalau semua keluar, siapa lagi yang akan
mengajar di dalam pesantren?). Menurut beliau, persoalan ekonomi tidak perlu
dikhawatirkan. Karena dengan mengajar, semua kebutuhan dunia akan datang dengan
sendirinya. Pesan yang beliau sampaikan ini sangat ditaati betul oleh kiai
Abdullah Schal. Begitulah di antara peran Kiai Nasir terhadap tokoh-tokoh di
Bangkalan.
Akhirnya, Pada hari Rabu 25 April 2001 M,
berita duka melanda Bangkalan. Kiai Nasir Yasin, sosok kiai khumul yang
dinobatkan sebagai penjaga keseimbangan Bangkalan telah berpulang ke
Rahmatullah. Inna lillahi wa inna Ilahi Raji’un. Semoga segala amal baik
beliau diterima di sisi Allah. Semoga kelak kita bisa berkumpul bersama beliau
beserta Syaichona Moh. Cholil di surga Allah. Amin ya rabbal ‘alamin.
Klarifikasi:
1. Kiai Cholil Yasin, adik kandung/kakak kandung Kiai Nasir?
2. “Asy`ary” memakai “i”/”y”?
3. “Istri beliau”, dhomir (kata ganti) “beliau”, marji` dhomirnya pada
kiai Nasir/kiai Abdullah Schal?
Kamis, 16 Februari 2017
KIYAI THOBRONI, PRIBADI YANG TAK PERNAH LELAH MENGEMBARA ILMU (ASCHAL Edisi 15)
KIYAI THOBRONI,
Pribadi
Yang Tak Pernah Lelah Mengembara Ilmu
Beliau adalah KH. Thobroni seorang
ulama dari tanah Madura tepatnya pada Desa Sabeneh Kec. Bangkalan Kab.
Bangkalan, Sosok seorang pengembara ilmu yang tidak pernah puas akan mencari
ilmu. Kesehariannya penuh dengan kesederhanaan, ketawadhu’an, serta
keistiqomaan dalam belajar. Nama lengkap beliau adalah KH. Thobroni Abd Aziz
bin KH. Abd Aziz bin KH. Abd Kadir (Sepupu daripada Syaichona Moh. Cholil
Bangkalan). Putra–putri beliau adalah:
Nyai Hj. Baidho
KH. Abd. Aziz (Alm)
Nyai Hj. Hujjatullah
Nyai Hj. Hurriyah
Nyai Hj. Qinanah
KH. Abdullah Khon (Pengasuh PP. Al Aziziyah
II)
Nyai Hj. Syifa’
KH. Abdullah Kuddus (Alm)
KH. Syaiful Qahhar (Pengasuh PP. Al Aziziyah
I)
Kiyai Thobroni merupakan pendidik bagi
putra-putri, santri serta masyarakat. Tak pernah lelah akan mencari ilmu adalah
didikan yang diajarkan oleh Kiyai Thobroni kepada putra-putri dan
santri-santrinya. Beliau juga selalu berpesan kepada putra-putrinya untuk
jangan sekali-kali membedakan antara kiyai, guru yang pernah ditimba ilmunya.
“Pernah saya sewaktu ke Surabaya bersama Kiyai Thobroni beliau berpesan, Senga’
nak ce’ sampe’ adeh bideaken antara guru, baik guru se aje’ ben guru’se lok
eyajih pe padeh takdzimmeh be’en, pe padeh be’en de’ sekabbenah tan
tretannah (Ingat nak jangan sampai kamu membeda-bedakan antara guru yang
mengajarimu dan guru yang tidak mengajarimu secara langsung, samakanlah kepada
seluruh saudara-saudaranya di dalam ketakdzimanmu),” Tutur Kiyai Taib salah
satu menantu Kiyai Thobroni. “Beliau adalah seorang yang cinta akan mencari
ilmu dan mengajar bahkan seandainya
beliau tidak sering sakit-sakitan beliau akan terus mengaji. Beliau
memposisikan dirinya sebagai orang yang tidak mengerti akan ilmu pengetahuan
sehingga beliau terus mengaji tanpa mengenal lelah,” Kenang Kiyai Taib.
Pendidikan Kiyai
Tobroni dan Ketakdziman kepada gurunya
Semenjak masa mudah Kiyai Thobroni
sangat menyukai ilmu pengetahuan. Berbagai macam ilmu beliau pelajari, tak ada
waktu yang beliau lalui tanpa mengaji dan ibadah. Kiyai Thobroni mudah belajar
langsung kepada Kiyai Muntaha Jangkebuan (Menantu Syaichona Cholil Bangkalan)
dan kepada Kiyai Munthasor Demangan Barat Bangkalan (Menantu Kiyai Imran bin
Syaichona Cholil Bangkalan) yang masih paman beliau sendiri tentang tepatnya
tahun kapan beliau menimba ilmu kepada Kiyai Muntaha dan Kiyai Munthasar tidak
diketahui. Kemudian beliau melanjutkan mondok di Sidogiri Pasuruan. Kiyai
Thobroni ibarat angin yang terus berputar tak pernah lelah dalam mengembara
ilmu pengetahuan walaupun beliau telah menjadi pemangku pesantren beliau tidak
terus menerus hanya mengajar. Tetapi beliau masih tetap belajar dan mengaji
pada para ulama. Beliau memposisikan dirinya sebagai orang yang tidak mengerti
sehingga beliau tetap belajar dan menimba ilmu.
Di dalam kesuksesan mencari ilmu
seorang Tholibul Ilmu tidak akan lepas dari yang namanya guru, peran
guru sangat menentukan apa nantinya dia akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat
apa tidak. Kiyai Thobroni adalah seorang sosok yang sangat mengagungkan guru
dan mentakdziminya. Beliau tidak pernah membedakan antara satu guru dengan guru
yang lain, baik guru yang berguru langsung atau tidak. Ketakdziman kepada
gurunya terbukti ketika beliau kedatangan para masyaikh Sidogiri. Beliau
langsung cepat-cepat bersalin baju dengan memakai baju gamis yang bagus dan
memakai Imamah (surban) dengan sempurna itu semua beliau lakukan karena untuk
mengagungkan sang guru. Kiyai Thobroni walaupun sudah menjadi kiyai besar
beliau selalu menunjukan sifat ketawaduannya. Jika dalam suatu acara beliau
diminta untuk membaca doa beliau selalu enggan kalau di tempat itu bertepatan
ada sang guru, atau masyaikh yang lebih sepuh darinya, hal itu beliau lakukan
karena kerendahan hati beliau dan sifat ketawaduaan beliau yang ditunjukan
kepada gurunya.
Dakwah Beliau di
Tengah-tengah Masyarakat
Pada masa orde lama sampai orde baru
terjadi pergerakan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang di mana pergerakannya
sangat meresahkan masyarakat, dan juga dapat mengancam Islam Ahlussunnah wal
Jama’ah dengan ajarannya, PKI bergerak ke plosok desa-desa dengan menyamarkan
diri dengan mengatasnamakan dirinya Partai Kiyai Indonesia untuk mendapatkan
simpati dari masyarakat. Dengan berdalih bahwasanya dirinya adalah kelompok
Kiyai Indonesia banyak masyarakat yang tertipu. Hal ini dapat mengahancurkan
sendi-sendi Islam Ahlussunah wal Jama’ah yang telah dibangun oleh para Wali
Songo dan para Ulama setelahnya, Islam yang sesuai dengan ajaran Rasulullah dan
para Sahabatnya. PKI telah banyak bergerak merusak akidah masyarakat. Kiyai
Thobroni merupakan salah satu dari Ulama Bangkalan bergerak hatinya untuk
meluruskan paham-paham sesat PKI yang mereka tanamkan ke tengah-tengah
masyarakat. Kiyai Thobroni bahkan bersama Kiyai Abdullah Schal Demangan Cicit
Syaichona Cholil berjuang bersama-bersama menghapus kepercayaan masyarakat
bahwa PKI adalah kelompok Kiyai Indonesia. Perjuangan Kiyai Thobroni bersama
Kiyai Abdullah tidaklah mudah, banyak batu sandungan yang menghalanginnya. Bahkan
mereka berdua pernah ditangkap karena berorasi begitu keras. Kiyai Thobroni
terkadang sampai berhari-hari tidak pulang ke rumahnya di karenakan pada saat
itu tidak ada kendaraan sebagai sarana beliau berdakwah. Kiyai Thobroni harus
berjalan kaki berkilo-kilo ke plosok-plosok desa, hal ini beliau lakukan demi
untuk menyelamatkan agama Islam dari paham-paham yang berusaha merusaknya. Tak
ada keluh kesah yang beliau rasakan dalam berdakwah. Pahit manisnya beliau rasakan
dengan ikhlas semata-mata hanya mengharap ridho Allah Swt.
Pandangan
Putra-Putri Kiyai Thobroni
Kiyai Thobroni adalah pendidik sejati
(Murobbil Kamil) baik dalam keluarga dan bagi para santrinya. Penanaman sebuah
karakter yang kuat dan kepribadian yang baik adalah yang diajarkan beliau
kepada Putra-putrinya, Kiyai Thobroni dalam mendidik putra-putri tidak banyak
dengan sebuah ucapan, tapi beliau mendidik langsung dengan sebuah prilaku.
Ketika menjadi pengasuh pesantren Kiyai Thobroni-lah yang langsung mengajar
para santrinya,Tanpa ada tenaga pengajar dari manapun.”Aba kadintoh taktoman
mundut guru tugas deri kadimma bi saos, walaupun aba monduk neng Sidogiri aba
tak mundut guru tugas, benni aba kadinto lokpercajeh dek guru tugas,tapeh
karena aba kadinto ngajerih potra-potrenah ka angguy mekker sopajeh tak nang
tenang selama e delem masa belajar” (Ayah tidak pernah mengambil guru tugas
darimanapun, walaupun ayah mondok di Sidogiri ayah tidak pernah mengambil guru
tugas, bukan karena ayah tidak percaya dengan kemampuan guru tugas, tapi itu
adalah sebuah pelajaran dari beliau untuk putra-putrinya supaya tidak
bersantai-santai dalam masa belajar),”Kenang Kiyai Syaiful Qohhar putra
bungsu beliau. “Bahkan ketika saya sedang liburan pesantren ayah sering
menanyakan sampai dimana mata pelajaran yang telah dihafal baik Sorrofnya, Imrithi
bahkan sampai Alfiyahnya. Jadi ketika saya akan pulangan pesantren adalah
moment yang paling saya takutin karena nanti sampai di rumah pasti akan
ditanyakan seperti itu, hari-hari liburan pun diisi Tanya jawab. Hal itu yang
mendorong saya dan saudara-saudara untuk benar-benar belajar dan tidak
bersantai-santai selama mencari ilmu,” Imbuh Kiyai Syaiful.
Hingga sampai saat ini yang meneruskan
pondok pesantren peninggalan Kiyai Thobroni adalah Putra-putri dan cucu beliau
yang turun langsung mengajar dan membimbing para santri.
Wafatnya Kiyai
Thobroni
Malam Ahad 5 Shafar 1408 H/28
September 1987 M, langit mendung di daerah Sabeneh terdengar isak tangis ribuan
manusia, berita wafatnya Kiyai Thobroni langsung terdengar menyebar luas.
Seorang Kiyai yang dikenal sangat Wira’i dan penuh ketawaduan ini akhirnya
dipanggil Tuhannya untuk menghadapnya. Mulai dari putra-putri, kerabat,
santri-santri beliau, sampai masyarakat luas
berbondong-bondong datang ke Sabeneh untuk bertakziah menyaksikan
pemakaman Sang Guru terakhir kali. Wafat sudah Sang pembimbing umat namun
jasa-jasanya tetap akan dikenang sepanjang masa. Beliau dimakamkan di komplek
pesantren Sabeneh yang sekarang dikenal dengan nama Pondok Pesantren Al
Aziziyah Sabeneh. Semoga segala kesalahan beliau diampuni dan diterima segala
jasa dan amal kebaikannya oleh Allah Swt.
Amin.
Oleh : Sutrisno Farizy_NH
Minggu, 05 Februari 2017
NYAI SUMTIN ABDULLAH (ASCHAL Edisi 14)
Nyai Sumtin Abdullah,
Embun
Penyejuk KHS. Abdullah Schal
Sepasang suami-isteri dalam mengarungi rumah tangga laksana bahtera
mengarungi samudera yang sangat luas. Di tengah perjalanan bahtera akan
menghadapi berbagai rintangan, ombak besar menggulung, angin puting-beliung
menghadang dan lain-lain. Si suami berperan sebagai nahkoda, dan si isteri
membantu segala keperluan nahkoda. Kalau keduanya tidak saling membantu,
apalagi saling berebut kemudi, maka bahtera bisa karam di tengah samudera. Tapi
kalau bersatu-padu, seia sekata dalam menghadapi berbagai problema, maka
bahtera akan terus berlayar sampai ke pantai kebahagiaan.
Nyai
Sum, begitu biasanya Nyai Sumtin, isteri KHS. Abdullah Schal dipanggil. Beliau
dilahirkan pada 31 Desember 1946 M di Desa Ngoro, sebuah kecamatan di Kabupaten
Jombang. Setelah boyong dari Pondok Pesantren Tambak Beras Jombang, beliau
menetap di rumah pamannya yang bernama Ust.Tajus Subki di Bangkalan. Hingga
suatu ketika beliau berhasil menjadi juara pertama lomba Tilawah Al-Qur’an yang
diadakan oleh GP Anshor Bangkalan pimpinan KH.Kholil AG, di halaman Masjid
Agung Bangkalan.
Suaranya
yang merdu tidak hanya memukau para juri dan para penonton, tapi juga KHS. Abdullah
Schal yang saat itu mendengarkan dari Demangan juga terpikat akan kemerduannya.
Setelah melalui proses cukup panjang, akhirnya KHS. Abdullah Schal menyunting
dan menikahi Nyai Sumtin.
Pilihan
KHS. Abdullah Schal ternyata sangat tepat. Dalam masa-masa perjuangan
mengembalikan eksistensi Pesantren Demangan. Nyai Sumtin berperan sangat besar mendampingi
KHS. Abdullah Schal dalam suka maupun duka. Nyai Sumtin memainkan peran penting
laksana Sayyidatuna Khadijah yang sangat besar jasanya didalam mendukung
keberhasilan dakwah Rasulullah.
Nyai Sumtin merupakan tipe seorang
isteri yang sangat sabar, tabah, dan tidak pernah mengeluh dalam kegetiran
hidup yang harus dijalani di awal-awal pernikahannya. Pembawaannya yang kalem
mampu meredam berbagai gejolak dalam perjalanan hidup KHS. Abdullah Schal.
Sebagai seorang isteri shalihah, beliau menjadikan rumah yang ditempati bersama
suami dan putra-putrinya, sebagaimana rumah yang disabdakan oleh Rasulullah
“Baiti Jannati” rumahku laksana surga bagiku.
Setiap
malam saat sang suami sedang keluar berdakwah ke plosok-plosok desa, Nyai Sumtin
tidak bersantai-santai di dalemnya. Beliau tiada henti-hentinya berdzikir dan
berdoa kepada Allah SWT. Hingga pada suatu ketika, dalam keheningan malam yang
sunyi, dalam gemerisik bunyi tasbih yang beliau pakai sebagai teman dalam
berdzikir, di puncak kekhusyukan seorang hamba yang wushul kepada Tuhannya,
tiba-tiba ada sinar dari angkasa. Cahaya tersebut kemudian turun perlahan-lahan
ke permukaan bumi. Nyai Sumtin terpana, sambil terus berdzikir tiada henti,
beliau melihat cahaya tersebut kemudian memasuki tubuhnya. Dinginnya udara
malam yang menusuk, tergantikan dengan rasa hangat yang menjalar dalam sekujur
tubuhnya. Sejak peristiwa sufistik tersebut, Nyai Sumtin merasakan kehidupan
ekonomi keluarganya berubah drastis. Rezekinya semakin dipermudah oleh Allah, min
haitsu la yahtasib.
Dari
pernikahan dengan KHS. Abdullah Schal, Nyai Sumtin dikaruniai 13 orang putera-puteri,
yaitu : Nyai Hj. Mutmainnah, Lora Abd. Kholiq (wafat waktu kecil), Nyai Hj. Nur
Bilqis, RKH. Fachrillah, Nyai Hj. Karimah, Nyai Hj. Zalikho’, Nyai Hj. Faidhoh,
Nyai Hj. Ummu Kholilah (almarhumah), RKH. Fachruddin, RKH. Moh. Nashih, Nyai
Laili (wafat waktu kecil), RKH. Moh Karror, Nyai Hj. Nailatul Farohah.
Sekalipun
menjadi isteri seorang kiai besar, Nyai Sumtin tetap menampakkan kesederhanaan
dan kesahajaannya. Beliau sangat mudah akrab dengan siapapun yang baru
dikenalnya. Tidak pernah membeda-bedakan status sosial orang lain, rendah hati,
dermawan, dan pandai menempatkan diri. Setiap orang yang bertemu dengan beliau,
pasti terkesan dengan sifat-sifat beliau tersebut.
Kasih
sayang beliau kepada putera-puterinya ditumpahkan setiap saat dan setiap waktu,
tanpa membedakan satu dan yang lainnya. Sering kali beliau berpesan, “ Jagalah
ikatan persaudaraan di antara kalian, kalau ada masalah apapun harus saling
mengalah”.
Dikalangan para santri dan
masyarakat luas, beliau sangat dikenal sebagai pribadi yang sangat dermawan,
senang bershadaqah kepada orang lain bahkan kepada para santri sendiri. Beliau
juga dikenal pandai memasak. Dalam hal ini beliau mengaku karena dididik
langsung oleh Nyai Romlah, walau dengan cara didikan yang kadang agak nyeleneh.
Beliau memasak sendiri untuk konsumsi KHS. Abdullah Schal dan putera-puterinya.
Bahkan untuk konsumsi acara apapun di Demangan, kecil atau besar, beliau turun
tangan langsung ke dapur memimpin santri puteri dan masyarakat yang membantu.
Nyai
Sumtin juga aktif mendampingi KHS. Abdullah Schal berdakwah keluar daerah
Bangkalan. Sampai pada akhirnya beliau wafat pada malam Rabu, 02 Jumadil
Akhirah 1427 H, di Simpang Lumut Pangkal Pinang (sekarang masuk Propinsi Bangka
Belitung). Kabar tentang kewafatan beliau pun langsung tersebar kebeberapa
simpatisan, alumni, dan santrinya terutama yang ada di Demangan. Di malam yang
buta, saat semua santri masih terlelap dengan mimpi-mimpi indahnya, kabar pilu
datang dari sebrang sana, seorang guru yang dermawan telah menghembuskan nafas
terakhirnya.
Malam
itu setelah shalat Isya’, beliau masih bercerita tentang segala hal kepada para
tamu dan keluarga H. Miskal (tuan rumah yang biasa ditempati). Selanjutnya
beliau masuk kamar dan istirahat. Kira-kira jam sebelas malam, beliau terbangun
dan merasakan sakit di bagian dada, sebagaimana sering beliau rasakan
sebelumnya. Setelah terbangun Nyai Sumtin meminta maaf kepada KHS. Abdullah
Schal atas segala kesalahan yang pernah dilakukan selama menjadi istri.
Menyaksikan hal tersebut KHS. Abdullah Schal diam saja karena memang tidak ada
firasat apapun sebelumnya. Tapi kemudian Nyai Sumtin tiada henti meminta maaf
dan meminta ridhonya, bahkan sampai memeluk erat seperti tidak mau berpisah.
KHS. Abdullah Schal dengan segala gelagapan memaafkan segala kesalahan dan
meridhoinya. Setelah itu Nyai Sumtin baru melepaskan pelukannya, lisannya
kemudian tiada henti berucap, “ Anakku doakan, anakku doakan, anakku doakan.”
Menyaksikan hal itu, KHS. Abdullah
Schal menyadari keadaan isterinya sangat mengkhawatirkan, kemudian berinisiatif
membawanya ke rumah sakit. Di dalam kendaraan lisan Nyai Sumtin terus-menerus
mengucapkan lafadh “ Allah…Allah…Allah.” Di tengah perjalanan menuju rumah
sakit, beliau menghembuskan nafas terakhir seraya bibirnya berucap “ Allah” dan
beliau pun berpulang ke haribaannya.
Inna Lillahi wa
Inna Ilahi Roji’un… Semoga dosa beliau diampuni, dan segala amal beliau diterima
oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Amin Allahumma Amin…
Sekalipun jasad
beliau telah berbaring di dalam kubur, tapi jasa-jasa beliau terhadap Pondok
Pesantren Demangan tak akan pernah hilang ditelan masa, tak kan pernah luntur
ditelan zaman, karena sudah tertulis dengan tinta emas, dan terpatri dalam dada
segenap keturunannya, santri, alumni, dan masyarakat luas yang sangat
mencintainya.
Oleh: R. KH.
Fahrillah Aschal
Rabu, 01 Februari 2017
Pendidik Al-Qur’an yang Istiqomah (ASCHAl Esiai 13)
KH. Muchtaram
Mun’im,
Bangkalan adalah salah satu kota
yang tercatat sebagai tempat lahirnya beberapa ulama kharismatik yang menjadi
pembimbing serta panutan masyarakat. Salah satu di antara beberapa ulama
tersebut adalah KH.Muchtaram Mun’im, sosok pendidik Al-Qur’an yang Istiqomah
Lahirnya sang
pendidik
Sekitar
tahun 1352 H/1931 M masehi dikota bangkalan tepatnya kampung jegelen yang
terletak di sebelah utara kota bangkalan lahir seorang bayi dari pasangan KH.
Abd.Mun’im bersama Nyai Hj. Talifah yang kemudian di beri nama Muchtaram Mun’im.
Beliau lahir di lingkungan pesantren asuhan ayahnya yang lebih spesifik
terhadap pengajaran ilmu Al-Qur’an dan banyak melahirkan para huffadz
(penghafal Al-Qur’an). Pondok ini dikenal dengan istilah pondok jegelen. Konon,
KH. Abdul Mun’im ini hadup semasa dengan Syaichona Moh. Cholil sehingga suatu
ketika ada seorang santri yang hendak mengaji Al-Quran ke Syaichona Moh. Cholil
lantas beliau menyarankan santri tersebut untuk berguru kepada kiai Bancaran
Yaitu KH. Abdul Mun’im (pada waktu itu syaichona cholil sudah sepuh dan kiai
mun’in masih muda).
Dibimbing dan
ditinggal orang tua
Kiai
Muchtaram mendapat bimbingan Al Qur’an secara langsung dari ayahandanya, Kiai
Abdul Mun’im hingga menginjak usia remaja karena memang taram kecil inilah yang
kelak akan melanjutkan sebagai penerus perjuangan sang ayah. Akan tetapi, dalam usia yang terbilang masih
sangat muda dan haus terhadap bimbingan seorang ayah, beliau harus rela
kehilangan sang ayahanda berpulang kerahmatullah dan disusul beberapa tahun
kemudian oleh Ibu beliau, Nyai talifah. sejak saat itu kiai Muhtaram hanya
tinggal bersama para saudara beliau. Diantaranya adalah KH. Fakhri Mun’im.
Menimba ilmu di
pesantren
Kepergian kedua orang tuanya tidak
lantas menjadikan taram kecil patah semangat dalam menuntut ilmu. Layaknya
putra seorang kiai dan dengan kecukupan ekonomi sebagai bekal untuk menuntut
ilmu, maka kiai muchtaram muda oleh saudaranya dimondokkan di salah satu
pesantren di tanah jawa yaitu pondok pesantren Panji buduran sidoarjo. tidak ada sumber yang pasti mengenai tahun berapa
lama beliau mondok di pesantren tersebut hanya saja menurut salah satu
putranya, KH. Hasbullah Muchtaram sekitar - + 6 tahun.
Menikahi cucu
Syaichona Moh.Cholil
Setelah beberapa tahun berada di
pesantren Panji Buduran sidoarjo, Kiai Muchtaram pulang ke kampung halamannya yaitu desa
pajegelen dan meneruskan syi’ar dan perjuangn sang ayahandanya. Tidak hanya
itu, kiai Muchtaram kemudian mempersunting salah seorang putri Kiai Yasin
kepang yang masih memiliki ikatan nasab dengan Syaichonaa Moh. Cholil dari
jalur ibunya, Istri KH Yasin yaitu Nyai Hj. Asiatun Binti Nyai Asma (istri KH.
Yasin) binti Syaichona Moh. Cholil bin KH. Abdullatif. Dari pernikahannya
dengan Nyai. Hj. Asiyatun ini Kiai Muchtaram dikaruniai 6 buah hati; 3
laki-laki dan yang tiganya lagi perempuan. Mereka semua adalah KH.Ahmad Faruq,
Nyai. Nur Jamilah, Nyai. Nur Kautsar, Nyai. Nur Latifah, KH. Hasbullah dan
terakhir KH. Imam Ghozali.
Mendirikan
podok pesantren
Tiga tahun setelah pernikahan dengan
Nyai. Hj. Asiatun yang tentunya dengan bekal keilmuan yang mapan, beliau hijrah
ke demangan tepatnya di sebelah timur pondok pesantren syaichona Moh. Cholil
dan mendirikan pondok pesantren di sana yang saat ini dikenal dengan pondok
pesantren Nurul hidayah. Di sanalah beliau mulai merintis, meneruskan cita-cita
sang ayah yaitu sebuah perjuangan dengan mengajarkan beberapa disiplin ilmu. Metode
mengajar yang di lakukan oleh Kiai Muchtaram ini tidak monoton terhadap apa
yang di lakukan sang ayah yaitu pondok pesantren yang lebih spesifik terhadaqp
ilmu al qur’an. Akan tetapi metode beliau lebih mengglobal terhadap
pembelajaran kitab kuning.
Dalam pondok pesantren ini pula
beliau menggagas sebuah trobosan baru dikala itu yang mana para santri mendapatkan izin untuk
menimba ilmu umum ke luar pesantren yang pada saat itu sekitar era 70-an
pelajaran ilmu umum masih di anggap tabu untuk di pelajari dan kebanyakan para
santri hanya monoton pada pengajian kitab kuning.
Setelah beliau boyong dari panji
sidoarjo, dalam usianya yang masih terbilang sangat muda beliau sudah mulai
menggeluti dunia sosial dengan cara terjun langsung kemasyarakat dalam
mengajarkan ilmu al qur’an karena di pondok beliau, selain menerima santri dari luar kiai taram
muda punya pemikiran untuk menyebarkan dan mengenalkan bacaan ilmu al qur’an
dengan cara mendatangi langsung satu persatu rumah-rumah di sekitar pesantren.
Meniti istiqomah
kesadaran akan pentingnya ibadah
shalat rupanya sangat tertanam dalam benak kiai muchtaram. Betapa tidak, selain
di kenal sebagai penyiar agama beliau juga merupakan tokoh yang sangat
istiqomah dalam melaksanakan ibadah shalat lima. Setiap kumandang tarhim
terdengar, beliau di pastikan sudah selesai mandi dan bersiap-siap dengan
busana yang rapi untuk menyambut kedatangan waktu shalat. Dan waktu yang
seperti inilah beliau tidak segan-segan menghentikan perbincangannya dengan
para tamu untuk kemudian melaksanakan shalat. Siapapun tamunya.
Beliau juga di kenal sebagai seorang
kiai yang sangat disiplin dalam semua urusan. beliau juga sangat menghormati
waktu dalam segala hal terutamanya dalam menghadiri undangan atau mengunjungi
tamu.
Dalam lingkungan keluarga, beliau
adalah sosok yang selalu memposisikan musyawaroh sebagai jalan keluar dari
semua masalah yang sedang beliau hadapi. Kalau pun toh masalah itu belum ada
jalan keluarnya, beliau lebih memilih diam ketimbang harus banyak bicara yang
tidak bermanfaat.
Beliau juga tertmasuk sosok yang sangat
di kagumi di lingkungan keluarganya mulai dari istri beliau, anak-anak dan
cucu-cucu yang menututi masa hidup beliau.
Sang guru kembali ke rahmatullah
Pada malam jum’at Sya’ban 1415 H/1994
M. di komplek pondok pesantren Nurul Hidayah tersebar kabar yang melahirkan
duka besar dihati masyarakat terutama keluarga dan sanak family kiai muchtaram.
Sosok yang selama ini menjadi kebanggaan serta pembimbing masyarakat telah
berpulang kerahmatullah.
Beliau dimakamkan di pemakaman martajasah
di dekat makam Syaichona Moh. Cholil berdempetan dengan makam ayahandanya.
Kepergian kiai Muchtaram sangat
menyisakan kesedihan yang luar biasa dikalangan masyarakat terutama para santri
yang selalu haus akan bimbingan beliau. Selamat jalan wahai guru.
Semoga amal ibadahnya
di terima di sisi Allah SWT.
*Mufti, Maulana
Ishaq Rafi/Aschal*
Rabu, 04 Januari 2017
ISTIQOMAH DAN DISIPLIN DI DALAM MELAKSANAKAN KEGIATAN SEHARI-HARI (ASCHAL Edisi 20)
Mungkin belum kita ketahui sepenuhnya tentang Kiai yang lebih
memilih hidup sederhana daripada hidup mewah di dalam menjalani kehidupan sehari-harinya.
Beliau juga tidak mempunyai keinginan hidup berkeduniaan, karena menurutnya
hidup berkeduniaan bukanlah bahan utamanya. Beliau adalah seorang sosok Kiai yang selama hidupnya tidak pernah
berhutang kepada orang lain, beliau tidak pernah meminjam uang untuk membeli
sepeda Motor dan membeli Mobil. Sampai saat ini juga, beliau juga tidak
memiliki hutang sepeser pun. Dan beliau pernah berpesan kepada putra-putrinya
“kalau masalah dunia ambil seadanya saja, jangan sampai berlebihan”.
Nasab Beliau Sambung kepada Syaichona Moh. Cholil Demangan
Pada tahun 1943 M, lahirlah seorang anak yang berna lengkap KH.
Abdul Muu’ty Cholili dari dua pasangan KH. Cholili bin Abdul Latif dengan Nyai.
Naimah binti KH. Imron yang mana secara beliau (Kh. Cholil) mengawini
bibiknya, karena lebih dekat Nyai Na’imah dibandingkan KH. Cholili kepada
Syaichona Moh. Cholili. Secara Nasab beliau adalah Cicit Syaichona Moh. Cholil Demangan Barat
Bangkalan.
Ketika KH. Abdul Mu’ty masih kecil, beliau sudah tidak merasakan lagi yang namanya kasih sayang dari seorang
ibu. Karena, ketika ibundanya melahirkan
putra ketiganya, pada waktu itu juga ibundanya menghembuskan nafas terakhir yang
ketika itu beliau masih berumur tujuh Tahun.
Setelah Ibu KH. Abdul Mu’ty berpulang ke rahmatullah, beliau
dibesarkan oleh ayahandanya (KH. Cholili) dan dibantu oleh salah satu santri
yang setatusnya menjadi khaddam (kabuleen madura red) kiai. Bukan
Cuma KH. Abdul Mu’ty yang tidak merasakan kasih sayang dari ibundanya, begitu
pun KH. Ahmad Juwaini kakak beliau dan juga KH. Abdul Mughni adik beliau juga
tidak pernah merasakan kasih sayang dari ibundanya.
Beliau mempunyai empat belas saudara, yang tiga sauada syaqiq (saudara
kandung laki-laki) yaitu KH. Ahmad Juwaini, KH. Abdul Mu’ty dan KH. Abdul Mughni.
Ketiga saudara laki-laki itu terlahir dari seorang ibu yang nasabnya sambung
dengan Syaichona Moh. Cholil dan saudara beliau yang lainnya dilahirkan oleh
istri kedua KH. Cholili yang bukan dari keturunan Syaichona Moh. Cholil.
Pendidikan KH. Abdul Mu’ty Cholili
Dalam segi pendidikan, beliau itu non formal dan non pesantren.
Karena beliau itulah yang mengurusi adik-adiknya yang masih kecil dari istri
kedua KH. KH. Cholili untuk menuntut ilmu. Walaupun tidak 100% membiyayai adik-adiknya untuk sekolah dan
mondok di pesantren, tapi bisa dibilang diatas 50%.
Dulunya beliau memang mempunyai inisiatif untuk sekolah dan
menuntuk ilmu di pesantren, namun hal itu tidak sesuai dengan apa yang
diinginkannya. Ketika beliau mengungkapkan keinginannya untuk mondok di
pesantren selama satu tahun kepada ayahnya, ayah beliau tidak mengijinkannya
dan ayah beliau berkata kepada KH. Abdul Mu’ty bahwasanya beliau tidak akan di
mondokkan di mana-mana, mulai dari itu beliau itu tidak pernah merasakan
suasana menjadi seorang santri.
Walaupun beliau tidak di mondokkan di pesantren, pada masa mudanya
beliau itu diperintahkan oleh ayahnya untuk mengaji kepada ayah KH. Munawwar
(pasar kapoh) yang mana kakak perempuan dari KH. Munawwar itu adalah istri
kedua dari Ayah KH. Abdul Mu’ty. Di sanalah beliau bisa mengarungi ilmu agama
walaupun ilmu tersebut tidak seberapa.
Memang dari ketiga saudara yang tidak pernah mondok dan sekolah
adalah KH. Abdul Mu’ty sendiri. Walaupun beliau tidak pernah tahu bagaimana
suasana di sekolah dan pesantren, beliau tidak kalah cerdas dengan kakan dan
adik beliau.
Pindah ke Dul Kariman (PP. Sirojul Cholil)
Sebelum beliau pindah ke tempat Dul Kariman. Dulu di sana adalah
tanah milik Syaichona Moh. Cholil yang di hadiahkan oleh Sultan kepada
Syaichona Moh. Cholil. Setelah itu, tanah milik Syaichona Moh. Cholil itu turun
kepada putrinya yang bernama Nyai. Khotimah, namun istilahnya bukan dari
Syaichona Moh. Cholil di wariskan kepada Nyai. Khotimah, tapi lokasi tersebut dijual
oleh Syaichona Moh. Cholil kepada Nyai. Khotimah untuk memberangkatkan istrinya
Syaichona Moh. Choli yang terakhir ke Mekkah menunaikan ibadah Haji, sehingga
tanah itu di beli oleh Nyai. Khotimah.
Akhirnya tempat itu dimiliki oleh Nyai. Khotimah dan juga suaminya
yang bernama KH. Thoha (KH. Muntaha bin Kaffal). Kemudian, setelah Syaichona
Moh. Cholil wafat. Lokasi di Dzul Kariman (PP. Sirojul Cholil) tidak ada yang
menempati. Kalau di masa Syaichona Moh. Cholil dulu, ketika beliau ingin
jalan-jalan di sekitar bengkalan utamanya yang mau mengarah ke Utara itu pasti
mampir ke dalemnya yang di Dzul Kariman. Setiap saat beliau pasti mampir ke
dalemnya itu.
Setelah Syachona Moh. Cholil wafat. Sekian puluhan tahun lokasi di
Dzul Kariman itu fakum karena tidak ada yang menempati. Sekitar 85 tahun lebih
tempat itu di tanggalkan oleh Syaichona Moh. Cholil, lalu lokasi tersebut di
tempati oleh tukang becak dan orang-orang berdagang. Tapi, secara transaksi
mereka itu statusnya ngontrak (menyewa) kepada KH. Cholili bin Abdul Latif (ayah
Kh. Abdul Mu’ty Cholili).
Namun, orang-orang yang menetap di Dzul Kariman tersebut mengaku
bahwa tanah yang di tempatinya itu adalah miliknya sendiri, karena memang sudah
puluhan tahun mereka menetap di sana dan mereka juga banyak yang melahirkan di
sana. Jadi, akhirnya untuk mengusir mereka yang sudah lama menetap di sana itu sangat
kesulitan.
Ketika beliau ingin pindah ke Dzul Kariman, beliau sangat kesulitan
sekali karena orang-orang yang menetap di sana lebih tua dibandingkan dengan KH.
Abdul Mu’ty. Pernah dulu ayah beliau mengatakan kepada putra-putrinya bahwa
tidak ada yang bisa mengusir orang-orang yang mengontrak di sana walaupun
beliau ingin mengeluarkan mereka dari tempat tersebut, sehingga KH. Cholili menawarkan
kepada putra-putrinya “sapah-sapah sebisa mengusir oreng se bedeh neng di
Dzul Kariman lauwes tempat jiah lakala” (barang siapa yang bisa mengusir
orang yang ada di Dzul Kariman ya sudah tempat itu diambil) dauh beliau kepada
putra-putrinya.
Kemudian putra-putrinya Kh. Cholili mencoba untuk mengusir
orang-orang yang berada di Dzul Kariman, mulai dari kakak Kh. Abdul Mu’ty yang
pertama kali mencoba untuk mengusir orang-orang tersebut namun apa yang telah
di lakukan oleh kakaknya sia-sia. Orang-orang tersebut masih saja menetap di
Dzul Kariman itu. Setelah itu adik dari Kh. Cholili juga ingin berpartisipasi
untuk melakukan pengusiran terhadap orang yang menetap di Dzul Kariman, namu
usaha adiknya tidak jauh beda dengan kakaknya. Mereka masih saja membantah
untuk tetap tinggal di Dzul Kariman tersebut. Mereka membantah atas pengusiran
yang di lakukan oleh putra-putra Kh. Cholili, karena mereka menganggap bahwa
tempat itu milik mereka sendiri.
Setelah kakak dan adik dari Kh. Abdul Mu’ty tidak ada yang bisa
melakukan pengusiran tersebut. Lalu Kh. Abdul Mu’ty turun tangan sendiri untuk
mencoba mengusir mereka yang masih saja menetap di Dzul Kariman. Alhamdulillah
setelah melakukan beberapa tahapan akhirnya orang-orang yang mengontrak bisa di
keluarkan walaupun hal tersebut sangatlah sulit bagi Kh. Abdul Mu’ty.
Sekitar tahun 2007, surat tanah yang dulunya masih belum berbentuk
sirtifikat sekarang sudah dirubah oleh KH. Ali Ghafir M. Pd menjadi sertifikat
yang resmi bernama KH. Abdul Mu’ty Cholili.
Kagiatan-Kegiata KH. Abdul M’ty yang sampai sekarang masih
berlanjut
Mulai beliau menetap di Dzul Kariman, beliau mempunyai keinginan
untuk mengadakan sebuah pengajian kecil-kecilan di dalemnya dan yang pesertanya
dari kampung Dzul Kariman sendiri. Kemudian beliau mengajak orang-orang di
kampung itu untuk ikut berpartisipasi dalam pengajian tersebut. Semua orang
yang ada di kampung itu menyetujui ajakan beliau dan ikut bergabung dalam
pengajian yang diadakan oleh KH. Abdul Mu’ty.
Selain dari orang-orang kampung di sekitarnya, ada juga orang yang masih
belum keluar dari kontrakan beliau yang mengikuti pengajian itu. Adapun tempat
untuk melaksanakan pengajian itu di dalemnya KH. Abdul Mu’ty sendiri yang di
tempatkan di Musholla sederhana milik beliau yang terbuat dari bambu.
Pengajian yang pernah di laksanakan oleh beliau pada malam Jum’at,
sampai sekarang pun masih di lanjutkan oleh KH. Ali Ghafir selaku ketua Ma’had
Sirojul Cholil yang ditetapkan pada malam Kamis.
Selain pengajian tersebut, ada juga pengajian yang dirintis oleh
KH. Abdul Mu’ty yaitu pengajian Muqoddaman dan Sholawat Nariyah yang juga
diteruskan oleh KH. Ali Ghafir. Pengjian ini diikuti oleh semua orang yang
berada di Kecamatan Bangkalan terutama di Bangkalan Kota.
Menjadi Khotib di Masjid
Dulu beliau pernah menjadi Khotib di Masjid Nurul Amal (Settoan
Pajagaan). Beliau membaca khutbah di masjid Nurul Amal tersebut pada setiap Sabtu
Kliwon.
Namun, baca khutbah itu tidak selamanya beliau teruskan, setelah KH.
Ali Ghafir menetap di Dzul Kariman sekitar satu Tahunan, beliau meminta KH. Ali
Ghafir untuk menggantikannya menjadi Khotib di Masjid Nurul Amal tersebut,
kegiatan itu sampai sekarang masih tetap di laksanakan oleh KH. Ali Ghafir
menantu dari KH. Abdul Cholili.
Selain menjadi Khotib di Nurul Amal, beliau dulu pernah menjadi
imam di Masjid Agung Bangkalan pada waktu pelaksanan Sholat Rawatib Ashar
setiap hari Senin setelah itu beliau juga meminta KH. Ali Ghafir untuk
menggantikannya.
Ketua di Hadrah ISHARI Bangkalan
Beliau adalah orang yang sangat senang terhadap pembacaan sholawat
yang diiringi dengan hadrah ishari. Beliau juga pernah menjabat sebagai ketua
ishari di kabupaten bangkalan beberapa priode.
Selain itu beliau juga banyak melatih dan mengkader orang-orang untuk
meneruskan hadrah ishari di bangkalan. Karena bukan cuma di kabupaten bangkalan
yang ada hadrah ishari, banyak dari daerah-daerah lainnya yang membaca
sholawatan dengan diiringi hadrah ishari seperti di Kacamatan Socah, Burneh, Tanah
Merah dan juga di desa Keramat.
Beliau tetap berusaha menghadiri permintaan orang-orang yang ingin
belajar ishari meskipun kendaraan pada waktu itu masih menggunakan sepeda ontel,
beliau tetap hadir untuk membuat kaderesasi orang-orang yang senang pada hadrah
ishari. Di hadrah ishari beliau menjabat sebagai ketua cabang dan sekarang
diganti KH. Muhaimin, sebelumnya KH. Muhaimin, RKH. Fahrillah Aschal juga
pernah menjadi ketua ishari di bangkalan.
Kedatangan KH. Toha bin Kaffal
Suatu ketika beliau pernah mendapat undangan dari masyarakat untuk
menghadiri sebuah acara, namun ketika itu juga KH. Abdul Mu’ty dalam kondisi
kurang begitu sehat. Sebelum beliau sakit-sakitan, beliau pernah bermimmpi didatangi
oleh KH. Toha bin Kaffal, “be’na tak usa kaluaran konjengan pole” (kamu
gak usah keluar untuk kondangan lagi) dauh KH. Toha bin Kaffal kepada KH. Abdul
Mu’ty dalam mimpinya.
Mungkin KH. Toha bin Kaffal berkata seperti itu karena KH. Abdul
Mu’ty pada waktu itu dalam keadaan kurang begitu sehat, sehingga beliau di
datangi oleh KH. Toha bin Kaffal. Tutur KH. Ghafir
Keistikomahan Beliau di Dalam Menjaga Waktu
Beliau itu orangnya sangat disiplin dan istikomah, setelah
pelaksanaan sholat shubuh beliau menunggu waktunya sholat Duha dan sesudah
melaksanakan sholat Duha beliau langsung membaca al-Qur’an sampai jam 09:00 semua
itu beliau lakukan secara istiqomah setiap hari.
Bukan Cuma itu, beliau juga membagi waktunya di dalam beribadah dan
selalu tepat waktu dalam melaksanakannya. Selain itu, beliau juga mempunyai
tempat husus untuk pakian yang ingin di
pakai ketika mengerjakan sholat . Beliau juga sangat tidak senang kepada orang
yang tidak disiplin.
Beliau itu senang ketika melakukan pekerjaan pada hari senin, apapun
yang beliau lakukan selalu pada hari senin. Contohnya ketika beliau membangun
pondok Sirojul Cholil, beliau mendatangkan seorang pekerja tetap seperti pak Sholeh,
pak Said dan pak Ahmad Semua pekerja tetap itu oleh beliau di perintahkan untuk
bekerja setiap hari senin walaupun pada hari senin itu tidak ada yang mau di
kerjakan, beliau tetap menghadirkan tiga pekerja itu. Karena saking senangnya
beliau pada hari Senin, sehingga beliau itu wafat malam senin.
Keanehan-Keanehan Beliau
Salah satu keanehan yang membuat semua orang kagum kepada beliau
iyalah ketika beliau meludah, ludah beliau itu baunya harum dan waktu beliau
mengusir orang-orang yang mengontrak di Dzul Kariman dulu, beliau bisa membuat
orang yang mengontrak ketakutan ketika melihat becak yang di duduki oleh beliau
bisa roboh dengan sendirinya. karena ketika beliau duduk di salah satu becak punya
orang-orang yang ada di Dzul Kariman, becak tersebut roboh dan hancur. Karena
keanehan itu, penduduk yang mengontrak
di sana menjadi ketakutan, sehingga mereka ada yang
keluar dari Dzul Kariman tanpa di perintah oleh KH. Abdul Mu’ty Cholili.















