Senin, 20 Februari 2017
Kamis, 16 Februari 2017
KIYAI THOBRONI, PRIBADI YANG TAK PERNAH LELAH MENGEMBARA ILMU (ASCHAL Edisi 15)
KIYAI THOBRONI,
Pribadi
Yang Tak Pernah Lelah Mengembara Ilmu
Beliau adalah KH. Thobroni seorang
ulama dari tanah Madura tepatnya pada Desa Sabeneh Kec. Bangkalan Kab.
Bangkalan, Sosok seorang pengembara ilmu yang tidak pernah puas akan mencari
ilmu. Kesehariannya penuh dengan kesederhanaan, ketawadhu’an, serta
keistiqomaan dalam belajar. Nama lengkap beliau adalah KH. Thobroni Abd Aziz
bin KH. Abd Aziz bin KH. Abd Kadir (Sepupu daripada Syaichona Moh. Cholil
Bangkalan). Putra–putri beliau adalah:
Nyai Hj. Baidho
KH. Abd. Aziz (Alm)
Nyai Hj. Hujjatullah
Nyai Hj. Hurriyah
Nyai Hj. Qinanah
KH. Abdullah Khon (Pengasuh PP. Al Aziziyah
II)
Nyai Hj. Syifa’
KH. Abdullah Kuddus (Alm)
KH. Syaiful Qahhar (Pengasuh PP. Al Aziziyah
I)
Kiyai Thobroni merupakan pendidik bagi
putra-putri, santri serta masyarakat. Tak pernah lelah akan mencari ilmu adalah
didikan yang diajarkan oleh Kiyai Thobroni kepada putra-putri dan
santri-santrinya. Beliau juga selalu berpesan kepada putra-putrinya untuk
jangan sekali-kali membedakan antara kiyai, guru yang pernah ditimba ilmunya.
“Pernah saya sewaktu ke Surabaya bersama Kiyai Thobroni beliau berpesan, Senga’
nak ce’ sampe’ adeh bideaken antara guru, baik guru se aje’ ben guru’se lok
eyajih pe padeh takdzimmeh be’en, pe padeh be’en de’ sekabbenah tan
tretannah (Ingat nak jangan sampai kamu membeda-bedakan antara guru yang
mengajarimu dan guru yang tidak mengajarimu secara langsung, samakanlah kepada
seluruh saudara-saudaranya di dalam ketakdzimanmu),” Tutur Kiyai Taib salah
satu menantu Kiyai Thobroni. “Beliau adalah seorang yang cinta akan mencari
ilmu dan mengajar bahkan seandainya
beliau tidak sering sakit-sakitan beliau akan terus mengaji. Beliau
memposisikan dirinya sebagai orang yang tidak mengerti akan ilmu pengetahuan
sehingga beliau terus mengaji tanpa mengenal lelah,” Kenang Kiyai Taib.
Pendidikan Kiyai
Tobroni dan Ketakdziman kepada gurunya
Semenjak masa mudah Kiyai Thobroni
sangat menyukai ilmu pengetahuan. Berbagai macam ilmu beliau pelajari, tak ada
waktu yang beliau lalui tanpa mengaji dan ibadah. Kiyai Thobroni mudah belajar
langsung kepada Kiyai Muntaha Jangkebuan (Menantu Syaichona Cholil Bangkalan)
dan kepada Kiyai Munthasor Demangan Barat Bangkalan (Menantu Kiyai Imran bin
Syaichona Cholil Bangkalan) yang masih paman beliau sendiri tentang tepatnya
tahun kapan beliau menimba ilmu kepada Kiyai Muntaha dan Kiyai Munthasar tidak
diketahui. Kemudian beliau melanjutkan mondok di Sidogiri Pasuruan. Kiyai
Thobroni ibarat angin yang terus berputar tak pernah lelah dalam mengembara
ilmu pengetahuan walaupun beliau telah menjadi pemangku pesantren beliau tidak
terus menerus hanya mengajar. Tetapi beliau masih tetap belajar dan mengaji
pada para ulama. Beliau memposisikan dirinya sebagai orang yang tidak mengerti
sehingga beliau tetap belajar dan menimba ilmu.
Di dalam kesuksesan mencari ilmu
seorang Tholibul Ilmu tidak akan lepas dari yang namanya guru, peran
guru sangat menentukan apa nantinya dia akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat
apa tidak. Kiyai Thobroni adalah seorang sosok yang sangat mengagungkan guru
dan mentakdziminya. Beliau tidak pernah membedakan antara satu guru dengan guru
yang lain, baik guru yang berguru langsung atau tidak. Ketakdziman kepada
gurunya terbukti ketika beliau kedatangan para masyaikh Sidogiri. Beliau
langsung cepat-cepat bersalin baju dengan memakai baju gamis yang bagus dan
memakai Imamah (surban) dengan sempurna itu semua beliau lakukan karena untuk
mengagungkan sang guru. Kiyai Thobroni walaupun sudah menjadi kiyai besar
beliau selalu menunjukan sifat ketawaduannya. Jika dalam suatu acara beliau
diminta untuk membaca doa beliau selalu enggan kalau di tempat itu bertepatan
ada sang guru, atau masyaikh yang lebih sepuh darinya, hal itu beliau lakukan
karena kerendahan hati beliau dan sifat ketawaduaan beliau yang ditunjukan
kepada gurunya.
Dakwah Beliau di
Tengah-tengah Masyarakat
Pada masa orde lama sampai orde baru
terjadi pergerakan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang di mana pergerakannya
sangat meresahkan masyarakat, dan juga dapat mengancam Islam Ahlussunnah wal
Jama’ah dengan ajarannya, PKI bergerak ke plosok desa-desa dengan menyamarkan
diri dengan mengatasnamakan dirinya Partai Kiyai Indonesia untuk mendapatkan
simpati dari masyarakat. Dengan berdalih bahwasanya dirinya adalah kelompok
Kiyai Indonesia banyak masyarakat yang tertipu. Hal ini dapat mengahancurkan
sendi-sendi Islam Ahlussunah wal Jama’ah yang telah dibangun oleh para Wali
Songo dan para Ulama setelahnya, Islam yang sesuai dengan ajaran Rasulullah dan
para Sahabatnya. PKI telah banyak bergerak merusak akidah masyarakat. Kiyai
Thobroni merupakan salah satu dari Ulama Bangkalan bergerak hatinya untuk
meluruskan paham-paham sesat PKI yang mereka tanamkan ke tengah-tengah
masyarakat. Kiyai Thobroni bahkan bersama Kiyai Abdullah Schal Demangan Cicit
Syaichona Cholil berjuang bersama-bersama menghapus kepercayaan masyarakat
bahwa PKI adalah kelompok Kiyai Indonesia. Perjuangan Kiyai Thobroni bersama
Kiyai Abdullah tidaklah mudah, banyak batu sandungan yang menghalanginnya. Bahkan
mereka berdua pernah ditangkap karena berorasi begitu keras. Kiyai Thobroni
terkadang sampai berhari-hari tidak pulang ke rumahnya di karenakan pada saat
itu tidak ada kendaraan sebagai sarana beliau berdakwah. Kiyai Thobroni harus
berjalan kaki berkilo-kilo ke plosok-plosok desa, hal ini beliau lakukan demi
untuk menyelamatkan agama Islam dari paham-paham yang berusaha merusaknya. Tak
ada keluh kesah yang beliau rasakan dalam berdakwah. Pahit manisnya beliau rasakan
dengan ikhlas semata-mata hanya mengharap ridho Allah Swt.
Pandangan
Putra-Putri Kiyai Thobroni
Kiyai Thobroni adalah pendidik sejati
(Murobbil Kamil) baik dalam keluarga dan bagi para santrinya. Penanaman sebuah
karakter yang kuat dan kepribadian yang baik adalah yang diajarkan beliau
kepada Putra-putrinya, Kiyai Thobroni dalam mendidik putra-putri tidak banyak
dengan sebuah ucapan, tapi beliau mendidik langsung dengan sebuah prilaku.
Ketika menjadi pengasuh pesantren Kiyai Thobroni-lah yang langsung mengajar
para santrinya,Tanpa ada tenaga pengajar dari manapun.”Aba kadintoh taktoman
mundut guru tugas deri kadimma bi saos, walaupun aba monduk neng Sidogiri aba
tak mundut guru tugas, benni aba kadinto lokpercajeh dek guru tugas,tapeh
karena aba kadinto ngajerih potra-potrenah ka angguy mekker sopajeh tak nang
tenang selama e delem masa belajar” (Ayah tidak pernah mengambil guru tugas
darimanapun, walaupun ayah mondok di Sidogiri ayah tidak pernah mengambil guru
tugas, bukan karena ayah tidak percaya dengan kemampuan guru tugas, tapi itu
adalah sebuah pelajaran dari beliau untuk putra-putrinya supaya tidak
bersantai-santai dalam masa belajar),”Kenang Kiyai Syaiful Qohhar putra
bungsu beliau. “Bahkan ketika saya sedang liburan pesantren ayah sering
menanyakan sampai dimana mata pelajaran yang telah dihafal baik Sorrofnya, Imrithi
bahkan sampai Alfiyahnya. Jadi ketika saya akan pulangan pesantren adalah
moment yang paling saya takutin karena nanti sampai di rumah pasti akan
ditanyakan seperti itu, hari-hari liburan pun diisi Tanya jawab. Hal itu yang
mendorong saya dan saudara-saudara untuk benar-benar belajar dan tidak
bersantai-santai selama mencari ilmu,” Imbuh Kiyai Syaiful.
Hingga sampai saat ini yang meneruskan
pondok pesantren peninggalan Kiyai Thobroni adalah Putra-putri dan cucu beliau
yang turun langsung mengajar dan membimbing para santri.
Wafatnya Kiyai
Thobroni
Malam Ahad 5 Shafar 1408 H/28
September 1987 M, langit mendung di daerah Sabeneh terdengar isak tangis ribuan
manusia, berita wafatnya Kiyai Thobroni langsung terdengar menyebar luas.
Seorang Kiyai yang dikenal sangat Wira’i dan penuh ketawaduan ini akhirnya
dipanggil Tuhannya untuk menghadapnya. Mulai dari putra-putri, kerabat,
santri-santri beliau, sampai masyarakat luas
berbondong-bondong datang ke Sabeneh untuk bertakziah menyaksikan
pemakaman Sang Guru terakhir kali. Wafat sudah Sang pembimbing umat namun
jasa-jasanya tetap akan dikenang sepanjang masa. Beliau dimakamkan di komplek
pesantren Sabeneh yang sekarang dikenal dengan nama Pondok Pesantren Al
Aziziyah Sabeneh. Semoga segala kesalahan beliau diampuni dan diterima segala
jasa dan amal kebaikannya oleh Allah Swt.
Amin.
Oleh : Sutrisno Farizy_NH
LANCAR MENGOREKSI LUPA INTROPEKSI (ASCHAL Edisi 15)
Lancar
Mengoreksi Lupa Intropeksi
Oleh M. Nurut Taufiq
Dinamika hidup cenderung lebih
sering mencerminkan hal-hal yang berseberangan dengan kode etik adaptasi
sosial. Secara tabi’at, manusia memang tidak dapat terlepas dari kesalahan.
Karakter manusia sebagai makhluk yang dalam dirinya juga diikut sertakan yang
namanya hawa nafsu lebih sering pula memiliki kecenderungan yang bertentangan
dengan kebenaran yang implemintasikan melalui al-Qur’an dan Hadist. Imam
Bukhari pernah mengutip perkataan Abu az-Zinad mengenai hal di atas yaitu
ان السنن
ووجوه الحق لتأتي كثيرا على خلاف الرئي
Sesungguhnya mayoritas sunnah dan kebenaran
bertentangan dengan pandangan pribadi
Oleh karenanya, upaya untuk
meminimalisir tabi’at
buruk manusia itu terus digencarkan oleh
sebagian manusia yang lain yang ditandai dengan semaraknya beberapa karya ulama
tentang kode etik manusia baik secara vertikal (kode etik antar manusia; hablun
min annas) maupun secara horizontal (kode etik manusia dengan tuhannya; hablun
min Allah).
Permasalahan
yang dapat kita posisikan sebagai kebiasaan buruk sebagaimana pemaparan diatas
diantaranya adalah kecenderungan kita menilai dan
mengoreksi orang lain daripada mengaca dan menyadari kesalahan ataupun
kekurangan pribadi. Lebih parahnya lagi, kebiasaan
negative lebih sering mengoreksi kekurangan orang lain ini juga merembet pada
hal-hal negative lain yang tak kalah buruknya seperti
sifat munafik, ghibah dan beberapa penyakit lisan dan penyakit hati yang lain. rasionalisasinya
adalah, budaya mengoreksi kesalahan orang lain ini akan menumbuhkan sifat
antisipasi antara yang satu dengan yang lain. Sama-sama saling berusaha
mengungkap kesalahan orang lain dan otomatis disertai usaha menutupi keburukan
diri sendiri. Pada akhirnya kebiasaan buruk yang menyertai adalah dusta dan
munafik. Sungguh kebiasaan yang mengerikan!
Berangkat dari pemaparan diatas, semestinya
yang perlu dikoreksi terlebih dahulu adalah kekurangan diri sendiri. Secara
aksiomatis (dlaruri) kita pun mengetahui bahwa kitaa adalah makhluk yang diasertai hawa nafsu dan tidak dapat
terlepas dari kesalahan, keburukan dan kekurangan. Maka idealnya memang sering melakukan intropeksi terhadap diri sendiri sebelum
mengoreksi kesalahan orang lain (ekstropeksi).
Intropeksi
merupakan suatu proses mengamati diri sendiri; apakah yang dilakukan sudah
benar, sudah baik, apakah kita sudah sukses dan beberapa bentuk pengamatan yang
lain Evaluasi diri. Dalam bahasa arab sering disebut muhasabatu annafsi.
Sayyidina Umar pernah menganjurkan untuk selalu melakukan intropeksi. Beliau
mengatakan,
حاسبوا
انفسكم قبل ان تحاسبوا
Hisablah diri kalian (intropeksi dirilah) sebelum
kalian semua di hisab
Hal ini
bukan berarti kita harus menghakimi diri sendiri dan menyalahkan diri pribadi
melainkan sebuah upaya untuk legowo menyadari kekurangan dan kesalahan
kita sehingga akan ada follow Up yang berupa usaha memperbaiki dan membenahi
kekurangan tersebut.
Syaich Jamaluddin bin Muhammad
al-Qasimy dalam bukunya, Mauidzatul Mu’minin yang diringkas dari Ihya’
‘Ulumuddin-nya al-Ghazali menyampaikan bahwa ketika Allah menghendaki suatu
kebaikan bagi hambanya maka Allah senantiasa memperlihatkan kepadanya kekurangan dirinya. Sesuatu yang dapat mengantarkan kita untuk mengetahui
kekurangan diri sendiri sebagai sarana muhasabah antara lain adalah:
1.
Mencari
seorang teman yang baik, jujur dan religius.
Sebagaimana
orang bijak mengatakan bahwa teman yang baik bukanlah teman yang selalu
membenarkan kita melainkan seorang teman yang selalu berkata jujur kepada kita.
Mengatakan dengan sebenarnya bahwa yang kita lakukan adalah keliru bukan malah
membenarkan kekeliruan yang kita lakukan. cara yang kedua ini banyak di
aplikasikan oleh para sahabat. Sayyidina Umar bin Khattab pernah mengatakan “
semoga Allah memberikan rahmat bagi orang yang menunjukkan kekuranganku”.
2. Mendengarkan Perkataan orang yang
membenci kita
Dalam
hal ini jelas bahwa orang yang tidak senang kepada kita itu lebih peka terhadap
kekurangan dan kesalahan kita daripada seorang teman yang selalu memuji kita
dan menutupi kekurangan kita sehingga dengan ini pula kita dapat mengetahui
tumpukan kesalahan dan kekurangan kita. Akhirnya intropeksi diri.
3. Berkumpul dengan orang lain
Tidak
jarang kita menyadari bahwa yang kita lakukan itu salah setelah kita melihan
kesalahan itu dilakukan oleh orang lain. ini adalah cara intropeksi sederhana
yang dapat kita lakukan. Imam al-Ghazali pernah menyampaikan, “seandainya
seseorang itu tidak melakukan sesuatu yang tidak disenanginya apabila dilakukan
orang lain kepadanya, tentu tidak perlu belajar yang namanya etika”.
Simpelnya, kalau kita tidak senang dimaki orang lain, janganlah kita senang
memaki-maki orang lain.
Benang merah pemaparan diatas adalah hendaknya kita
berperilaku bijak. Sebuah permasalahan yang seringkali muncul dalam kehidupan
kita mestinya kita sikapi dengan bijaksana. jangan lantas kita menyalahkan
siapa, barangkali kita yang perlu berbenah. memulai merubah situasi dengan
melakukan intropeksi dan memperbaiki diri sendiri. Jangan malah lancar
mengoreksi (orang lain) dan lupa intropeksi.
PEMILU, SISTEM NON ISLAM YANG ISLAMI (ASCHAL Edisi 15)
PEMILU,
Sistem Non Islam yang Islami
Oleh Mufti
Shohib
Pemilihan Umum merupakan Proses
pemilihan yang dilakukan oleh orang-orang untuk mengisi jabatan-jabatan politik
tertentu termasuk juga prosesi pemilihan seorang presiden yang merupakan
pimpinan tertinggi suatu negara. Dalam wacana syariah ada tiga mekanisme
pemilihan yang ditampilkan dalam rangka Nashbul Imamah (suksesi
kepemimpinan) yang pertama adalah bai’at. Sebagaimana diterapkan
oleh para sahabat yang membai’at Abu Bakar untuk menjadi seorang pemimpin. Yang
kedua adalah wasiat dimana seorang pemimpin menunjuk seseorang
yang memiliki kapabilitas kepemimpinan untuk menjadi pemimpin setelahnya. Hal
ini juga dipraktekkan oleh Sayyidina Abu bakar yang menunjuk sayyidina Umar
sebagai khalifah. Dan yang terakhir adalah istila’u dzissyakah yaitu
seseorang muslim yang memiliki kekuatan
menang dalam kepemimpinan.
Tiga wacana yang ditampilkan dalam
syari’at ini mengindikasikan bahwa mekanisme yang terealisasi di Indonesia
secara konsep tidak tercover dalam syari’at. Namun demikian hal pertama yang
urgen untuk diketahui bahwa mengangkat seorang presiden (Nashbul Imamah)
merupakan sesuatu yang Wajib demi terciptanya mashlahat universal dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal ini banyak sekali tertuang dalam
berbagai literatur fiqih mu’tabarah sebagaiamana juga tertulis dalam kitab Raudlatut
Thalibin karya Imam An-Nawawi. Oleh karenanya, ketika tiga konsep wacana
syariat tentang mekanisme pengangkatan seorang imam tersebut tidak dapat
terealisasi, sedangkan pengangkatan itu sendiri merupakan hal yang tidak dapat
disangkal keharusannya, maka bagi rakyat boleh mengaplikasikan segala sistem
demi terwujudnya tugas pokok yaitu Nashbul Imamah (suksesi kepemimpinan) yang
sesuai dengan prinsip syariat (al-Mashlahat) termasuk juga juga
mekanisme pemilihan secara langsung yaitu pemilu.
Kemudian terdapat beberapa hal yang
menjadi keharusan rakyat sebagai seorang pemilih atau bahkan dalam sistem
demokrasi dapat dikategorikan sebagai pemegang tunggal kekuasaan. Hal itu
sebagaimana dikutip dari kitab Al- Ahkam As-Sultoniyah yang intinya adalah
rakyat harus memiliki pengetahuan dan pandangan tentang siapa yang layak
menyandang tugas sebagai seorang presiden. Rakyat harus memilik gagasan dan
kebijaksanaan dalam menentukan sosok presiden yang betul-betul memiliki
kapabilitas dan kualitas yang relevan menjadi seorang presiden dan tegas serta
bijak dalam mengemban komitmen mewujudkan kemashlahatan. Oleh karenanya ketika
misalnya di suatu wilayah ada dua calon presiden yang memiliki kualitas
dibidangnya masing-masing, maka yang menjadi tolak ukur penentu pilihan adalah
relevansi masing-masing dari keduanya dengan situasi dan kondisi wilayah
tersebut. dalam artian, kalau misalnya calon yang pertama lebih dipercaya dalam
mengemban amanah sedangkan calon yang kedua lebih tegas memberi keputusan maka
yang diprioritaskan adalah relevansinya dengan kebutuhan wilayah itu.
Imam al-Mawardi dan Abu Ya’la
berpendapat bahwa dalam hal ini yang diprioritaskan adalah tuntutan di masa
itu. ketika yang dibutuh adalah sosok pemimpin yang tegas dan berani karena
maraknya golongan pemberontak terhadap pemerintahan maka yang lebih berhak
untuk dipilih adalah seorang presiden yang tegas dan begitu pula sebaliknya.
Hal ini dijelaskan dalam kitab al-Imamatu al-Udzma hal 306-307.
Adapun permasalahan yang kian
menjamur terlebih saat menjelang prosesi pemilu ialah mewabahnya pemberian dari
oknum-oknum tertentu kepada rakyat. Tidak semua pemberi lantas memaparkan
secara jelas maksud dan tujuan dari pemberiannya. Bahkan tidak sedikit yang
berdalih bahwa pemberian itu sebatas hadiah dan lain sebagainya.
Dalam hal ini sudah jelas kiranya
klarifikasi yang disampaikan Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin-nya
sebagai berikut, “Orang yang memberikan kepada Orang Lain tidak lain pasti
ada tujuannya. Namun tujuan pemberian itu adakalanya yang bersifat Ukhrawy
seperti mengharap pahala, dan adakalanya bersifat duniawy. Sedangkan yang
bersifat duniawy adakalahnya berbentuk materi, perbuatan, menolong atas tujuan
tertentu, dan adakalanya dengan tujuan agar hati orang yang diberi senang kepada
si pemberi, baik memang tujuan agar disenangi semata oleh orang yang diberi,
maupun senangnya orang yang diberi dijadikan sebagai mediator (alasan) untuk
mendapatkan tujuan tertentu dibelakangnya. Kesimpulannya ada lima bagian; ...
bagian yang ke lima adalah tujuan si pemberi agar ditolong oleh orang yang
diberi dengan melakukan perbuatan tertentu, ....- pemberian ini merupakan
sebuah pemberian dengan syarat dibalas dengan balasan tertentu yang tujuan
balasan itu dapat diketahui dari indikasi situasi dan kondisi. Maka telitilah
maksud perbuatan yang berupa balasan dari pemberian ini. Apabila balasan yang
dimaksud adalah perbuatan haram seperti usaha didalam melestarikan terus
menerusnya perbuatan haram atau berbuat dholim kepada manusia atau yang
lainnya, maka hukum mengambil pemberian tersebuat hukumnya haram. Dan jika hal
tersebut merupakan sebuah kewajiban seperti menolak kedzaliman yang tertentu
atas setiap orang yang mampu melakukannya, atau persaksian tertentu maka haram
pula mengambilanya karna hal demikian termasuk praktek suap yang tidak
diragukan lagi keharamannya”
Dari klarifikasi diatas dapat
ditarik benang berah bahwa ketika ada seseorang menyodorkan pemberian dengan
tujuan agar kita memilih seorang pemimpin yang tidak memiliki kapabilitas sebagai
seorang pemimpin, meskipun tujuan pemberian itu tidak di ucapkan oleh pemberi,
karena indikasi kondisi dan situasi sudah menunjukkan tujuan pemberian
tersebut, maka hukum mengambilnya jelas haram. Dan hal itu di kategorikan risywah
atau suap.
Kesimpulan dari pemaparan di atas
adalah wajibnya umat muslim Indonesia memilih seorang presiden yang dapat
mewujudkan perubahan tentunya dengan memilih seorang presiden yang memiliki
kapasitas dan kapabilitas menjadi seorang pemimpin negara. Mekanisme pengangkatan
yang di aplikasikan di Indonesia pun mendapatkan lampu hijau syari’at meskipun
pada dasarnya tidak pernah tergambar dalam wacana Islam. Dan demi terciptanya
perubahan menuju negara Indonesia yang lebih baik rakyat diharuskan untuk
proaktif mengikuti prosesi pemilihan dengan memilih seorang calon yang
berkompeten dan dianggap mampu mengemban amanah membawa Indonesia pada tahap
perubahan yang lebih baik, dan larangan bagi rakyat mempraktekkan suap menyuap
demi kemashlahatan Indonesia, Kemashlahatan hidup berbangsa dan bernegara, dan
kemakmuran Indonesia.
Yang terakhir, bahwa krisis
multidimensi yang melanda Indonesia adalah kesalahan kita bersama yang
seringkali bersikap apatisme, tidak mau tahu persoalan negara dan tidak peduli
terhadap “segalanya”. Perubahan itu rakyat yang menentukan. Presiden hanya
sebagai pelaksana.!
KONSEP MEMPUNYAI ANAK SHALEH & KETAULADANAN NABI ISMAIL (ASCHAL Edisi 15)
Konsep
Mempunyai Anak Shaleh & Ketauladanan Nabi Ismail
Oleh:
Moh Ali Ghafir Addulkarimani*
Maha Besar Allah SWT yang telah menciptakan makhluk-Nya dengan beraneka
macam. Makhluk yang berakal dan yang tak berakal, laki-laki dan perempuan, yang
shaleh dan yang thaleh (yang jelek), dan banyak lagi macamnya. Ada surga yang diperuntukkan untuk makhluk
yang taat dan neraka diciptakan bagi yang durhaka pada-Nya. Maha Kuasa Dzat
yang telah memberikan anak dan keturunan yang mukmin yang shaleh dan kafir. Nabi
Adam alaihissalam yang berpangkat Nabi telah diberikan anak Qabil yang
tergolong orang yang kafir, Kan’an putra Nabi Nuh alaihissalam ditakdirkan
menjadi orang yang kufur. Azar ayahanda dari Nabi Ibrahim alaihissalam
merupakan pembesar dan tokoh agama bagi orang yang menyembah berhala, namun
anaknya menjadi salah satu Nabi Allah SWT. Semua orang pasti mendambakan mempunyai
anak dan keturunan yang baik, membahagiakan, serta bermanfaat dan berkah. Karena
calon-calon generasi muda yang baik akan menjadi pilar utama dalam menuju pintu
kesuksesan sebuah bangsa, sebagaimana ungkapan sastrawan Syaikh Musthafa
al-Ghalayaini, “Sesungguhnya ditanganmulah (kesuksesan) sebuah bangsa.” Banyak cara yang dilakukan para nabi dan
shalihin untuk memperoleh anak dan generasi muda yang qurratu a’yun (membikin
kalbu bahagia). Mereka berusaha melalui taqarrub kepada Allah SWT (ibadah
dan doa), pendidikan, nasehat-nasehat dan lainnya. Nabi Adam alaihissalam
pada saat akan meninggalkan dunia yang fana ini, ia mengajari putra kesayangannya
Nabi Syits alaihissalam tentang eksistensi dan kegunaan waktu siang dan
malam. Mengajari cara-cara ibadah untuk memanfaatkan waktu-waktu tersebut serta
ia telah memberitahu pada Nabi Syits alaihissalam bahwa akan terjadi
tufan yang melanda umat. Dengan didikan yang mulia ini putranya menjadi salah
satu nabi Allah SWT. Lain lagi cara yang dilakukan oleh Nabi Zakaria alaihissalam
untuk mempunyai anak yang shaleh harus berusaha dengan maksimal. Ia sangat lama
yang akan diberi keturunan oleh Allah SWT, namun tidak henti-hentinya selalu taqarrub
dan berdoa pada Sang Maha Pencipta itu SWT. “Anugerahilah aku dari sisi
Engkau seorang putra yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebagian keluarga
Ya’qub, dan jadikanlah ia, ya Tuhanku seorang yang diridhai,” (QS; Maryam:
5-6). Itulah doa Nabi Zakaria alaihissalam yang selalu dilantunkan
kepada Sang Maha Kuasa. Doa dan taqarrub ini selalu dijalankan dengan tekun dan tak
mengenal putus asa. Ada sebagian riwayat mengatakan bahwa ia baru diberi
keturunan seorang putra yang bernama Yahya setelah berdoa selama empat puluh
tahun, dan ada yang berpendapat selama enam puluh tahun. Setelah mendapat
informasi bahwa ia akan diberi anak yang bernama Yahya alaihissalam, ia
keluar ke Mihrabnya (tempat ibadah) dan menyuruh kepada umatnya untuk
selalu bertasbih pada waktu pagi dan sore sebagai tanda bersyukur dan mendoakan
sicabang bayi sebagai calon generasi muda yang tangguh itu. Berkat doa dan ketekunannya
dalam beribadah maka Nabi Yahya alaihissalam sebagai putra Nabi Zakaria alaihissalam
menjadi anak yang shaleh dan taat kepada Allah SWT, dan tidak pernah
berinisiatif untuk melakukan dosa apalagi mengerjakannya.
Maryam ibunda Nabi Isa alaihissalam menjadi orang yang taat
kepada Allah SWT, ia selalu bersujud dan rukuk (shalat) menyembah Sang Pencipta
Allah SWT. Bahkan Malaikat Jibril memberi info padanya bahwa ia telah dipilih
dan disucikan oleh Allah SWT. Dengan memperbanyak ibadah dan selalu mensucikan
diri dari dosa, maka ia diberi seorang putra yang penjadi orang yang shaleh dan
diangkat nabi oleh Allah SWT. Nabi Isa alaihissalam adalah seorang nabi
yang memang diciptakan oleh Allah SWT tanpa mempunyai seorang ayah. Orang
shaleh yang bernama Lukman radhiyallahu anhu selalu memberi nasehat
kepada putranya yang bernama An’am. Ia berpesan agar tidak menjadi orang yang
menyekutukan Allah SWT, selalu tekun melakukan shalat, menegakkan amar
ma’ruf dan nahi mungkar, serta selalu bersabar dalam menghadapi
malapetaka yang menimpa. Dan ia mengajari etika yang baik, santun dalam ucapan
dan sopan dalam tingkah lakunya. Sahabat Abu Bakar radhiyallahu anhu
selalu berdoa, “Wa ashlih li fi dzurriyyati (shalihkanlah keturunan aku).” (QS;
Al-Ahqaf: 15) Ia telah berhasil mendidik semua pura-putrinya,
sehingga mereka memeluk agama yang dibawa oleh Kanjeng Rasul shallahu alaihi
wa sallam dengan tulus. Bahkan kedua orang tuanya menjadi pemeluk agama
Islam yang tidak pernah terjadi dan dialami oleh para sahabat yang lain. Nabi
Ibrahim alaihissalam selalu berdoa kepada Allah SWT agar mempunyai
keturunan yang shaleh. “Rabbi hab li mi al-Shalihiin (Ya Tuhan, berikan
padaku anak yang shaleh),” (QS; Al-Shaffat: 100) itulah doa
Nabi Ibrahim alaihissalam setiap saat. Selain itu, doa yang selalu
dilantunkan adalah, “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan keturunanku menjadi
orang yang tekun melakukan shalat, wahai Tukan kami, terimalah doa ini. Wahai
Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua orang tuaku dan semua orang mukmin.” (QS;
Ibrahim: 40) Nabi Ibrahim alaihissalam selalu tekun berdoa kepada
Allah SWT dan baru dikaruniai seorang anak yang bernama Ismail alaihissalam
setelah berumur seratus tujuh belas tahun. Menurut versi Ibnu Abbas ia
dikaruniai Ismail alaihissalam setelah berumur sembilan puluh sembilan
tahun dan diberi anak yang bernama Ishaq alaihissalam pada usia seratus
dua belas tahun.
Dalam beberapa catatan referensi sejarah dijelaskan bahwa Nabi Ibrahim
alaihissalam mempunyai banyak keturunan. Dari istri pertamanya yang
bernama Sarah mempunyai putra yang benama Ishaq. Sebelum Ishaq kecil dilahirkan
dari ibunya Sarah, Ismail telah lahir tiga belas tahun yang lalu. Ibu dari
Ismail adalah Hajar al-Qibtiyah al-Mishriyah, ia menjadi istri Nabi
Ibrahim alaihissalam dengan restu dan pemberian istri pertamanya yang
bernama Sarah. Dari istrinya yang bernama Qanthura, Ibrahim dikaruniai anak
sebanyak enam, sedangkan Hajun setelah dikawininya mempunyai anak lima. Kitab
sejarah sangat pelit menginformasikan nama-nama anak tersebut. Dari sekian
banyak anak yang ada, anak yang terkenal dan termulia adalah Ismail dan Ishaq,
karena kedua orang ini diangkat menjadi nabi dan rasul oleh Allah SWT.
Nabi Ismail bin Ibrahim merupakan salah satu putra Ibrahim yang banyak
mempunyai sifat-sifat yang mulia yang termaktub dalam al-Qur’an. Hal ini tidak
lepas dari taqarrub ayahnya Ibrahim melalui ibadah, pendidikan yang
diberikan, dan doa kepada Allah SWT semata. Dialah seorang penyabar, bersifat halim,
sifat ini diekspresikan pada saat sang ayahnya melaksanakan perintah
penyembelihan. Demi sam’an wa tha’atan kepada Allah SWT dan orang tuanya
dia langsung mengatakan, “Ya abati if’al maa tu’maru (wahai ayahku, laksanakanlah
sesuatu yang diperintahkan!)”. Dilihat
dari ilmu gramatika Arab, sighat if’al (kerjakanlah) merupakan bentuk
amar yang makna hakikinya adalah perintah dan wajib. Ucapan ini menjadi indikator
bahwa Ismail kecil sangat menyetujui dan taat menjalankan perintah Allah SWT
dan ayahnya. Yang tidak boleh terlupakan, sebelum ayahnya melaksanakan perintah
suci itu, Ismail berwashiyat pada ayahnya. Pertama: “Kuatkan tali yang
dibuat mengikatku, agar aku tidak dapat bergerak!” Pesan ini sangatlah
berarti, karena menunjukkan ke-tawakkal-annya, dan sifat taat yang memuncak. Kedua:
“Hindari bajumu dari percikan darahku, khawatir menjadi penyebab berkurangnya
pahalaku, dan takut terlihat ibu akhirnya ia merasa duka yang mendalam!” Dari
ungkapan ini terlihat sifat sopan Ismail yang tidak ingin menyakitkan sang ayah
atau orang lain karena bajunya kotor, dan tidak mau membuat sang ibu duka
terlalu lama, selain itu ia tidak ingin amalnya tersia-sia dan tidak mengandung
pahala. Ketiga: “Tajamkanlah pisaumu, dan percepat jalannya di tenggorokanku
agar aku cepat mati!” Secara tidak
langsung, ungkapan ini menjadi pelajaran bagi kita, agar tidak menyiksa hewan
sembelihan dengan cara pisaunya ditajamkan, dan Ismail berkeinginan perintah
suci ini cepat selesai dilaksanakan. Keempat: “Apabila Anda bertemu
ibu, sampaikanlah salamku!” Doa sang ibu sangat berharga bagi Ismail,
biarpun dirinya sudah meninggalkannya untuk selamanya, namun doa orang tua
diharapkan terus berlanjut sebagaimana ia masih hidup. Kelima: “Apabila Anda
ingin mengembalikan pakainku pada ibu, lakukanlah, barangkali hal itu menjadi
media baginya untuk melupakanku!” Kata-kata ini sangat menyentuh pada hati,
umpama Ismail sudah tiada dan meninggalkan orang tua selamanya, pada suatu saat
sang ayah dan ibu merindukannya, dapat melepas ingatan dan kerinduan dengan cara
melihat baju peninggalannya.
Seorang putra al-Kholil yang diberi gelar ghulam halim dalam
kitab al-Qur’an merupakan sosok seorang yang mempunyai peninggalan yang sangat
bersejarah. Dialah orang pertama kali yang dapat meluluhkan kuda dan dapat
dibuat alat transportasi yang semula tergolong hewan gesit dan buas. Sebagaimana
yang telah disabdakan oleh Kanjeng Rasul yang diriwayatkan oleh Abdullah bin
Umar, “Ambillah kuda itu dan tahanlah (peliharalah)! Karena kuda itu adalah
peninggalan bapakmu Ismail.” Pada usia empat belas tahun Ismail kecil sudah
bisa berkomunikasi dengan bahasa Arab fushha dan balighah. Dan
dialah yang pertama kali menggunakan bahasa yang fushha itu. Ismail
dikaruniai dua belas putra dari istrinya yang bernama Sayyidah binti Madhadh
bin Amrin. Beliau wafat dalam usia 137 tahun dan dikuburkan dekat ibunya Hajar
di Desa Hajar. Wallahu a’lam.
*Penulis
adalah Dosen STAI Syaichona Moh. Cholil Bangkalan
















