(Tab Widget 2)

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Media Kreasi Santri

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Senin, 20 Februari 2017

Kamis, 16 Februari 2017

KIYAI THOBRONI, PRIBADI YANG TAK PERNAH LELAH MENGEMBARA ILMU (ASCHAL Edisi 15)


KIYAI THOBRONI,
Pribadi Yang Tak Pernah Lelah Mengembara Ilmu
Beliau adalah KH. Thobroni seorang ulama dari tanah Madura tepatnya pada Desa Sabeneh Kec. Bangkalan Kab. Bangkalan, Sosok seorang pengembara ilmu yang tidak pernah puas akan mencari ilmu. Kesehariannya penuh dengan kesederhanaan, ketawadhu’an, serta keistiqomaan dalam belajar. Nama lengkap beliau adalah KH. Thobroni Abd Aziz bin KH. Abd Aziz bin KH. Abd Kadir (Sepupu daripada Syaichona Moh. Cholil Bangkalan). Putra–putri beliau adalah:
Nyai Hj. Baidho
KH. Abd. Aziz (Alm)
Nyai Hj. Hujjatullah
Nyai Hj. Hurriyah
Nyai Hj. Qinanah
KH. Abdullah Khon (Pengasuh PP. Al Aziziyah II)
Nyai Hj. Syifa’
KH. Abdullah Kuddus (Alm)
KH. Syaiful Qahhar (Pengasuh PP. Al Aziziyah I)
Kiyai Thobroni merupakan pendidik bagi putra-putri, santri serta masyarakat. Tak pernah lelah akan mencari ilmu adalah didikan yang diajarkan oleh Kiyai Thobroni kepada putra-putri dan santri-santrinya. Beliau juga selalu berpesan kepada putra-putrinya untuk jangan sekali-kali membedakan antara kiyai, guru yang pernah ditimba ilmunya. “Pernah saya sewaktu ke Surabaya bersama Kiyai Thobroni beliau berpesan, Senga’ nak ce’ sampe’ adeh bideaken antara guru, baik guru se aje’ ben guru’se lok eyajih pe padeh takdzimmeh be’en, pe padeh be’en de’ sekabbenah tan tretannah (Ingat nak jangan sampai kamu membeda-bedakan antara guru yang mengajarimu dan guru yang tidak mengajarimu secara langsung, samakanlah kepada seluruh saudara-saudaranya di dalam ketakdzimanmu),” Tutur Kiyai Taib salah satu menantu Kiyai Thobroni. “Beliau adalah seorang yang cinta akan mencari ilmu dan mengajar  bahkan seandainya beliau tidak sering sakit-sakitan beliau akan terus mengaji. Beliau memposisikan dirinya sebagai orang yang tidak mengerti akan ilmu pengetahuan sehingga beliau terus mengaji tanpa mengenal lelah,” Kenang Kiyai Taib.

Pendidikan Kiyai Tobroni dan Ketakdziman kepada gurunya
Semenjak masa mudah Kiyai Thobroni sangat menyukai ilmu pengetahuan. Berbagai macam ilmu beliau pelajari, tak ada waktu yang beliau lalui tanpa mengaji dan ibadah. Kiyai Thobroni mudah belajar langsung kepada Kiyai Muntaha Jangkebuan (Menantu Syaichona Cholil Bangkalan) dan kepada Kiyai Munthasor Demangan Barat Bangkalan (Menantu Kiyai Imran bin Syaichona Cholil Bangkalan) yang masih paman beliau sendiri tentang tepatnya tahun kapan beliau menimba ilmu kepada Kiyai Muntaha dan Kiyai Munthasar tidak diketahui. Kemudian beliau melanjutkan mondok di Sidogiri Pasuruan. Kiyai Thobroni ibarat angin yang terus berputar tak pernah lelah dalam mengembara ilmu pengetahuan walaupun beliau telah menjadi pemangku pesantren beliau tidak terus menerus hanya mengajar. Tetapi beliau masih tetap belajar dan mengaji pada para ulama. Beliau memposisikan dirinya sebagai orang yang tidak mengerti sehingga beliau tetap belajar dan menimba ilmu.
Di dalam kesuksesan mencari ilmu seorang Tholibul Ilmu tidak akan lepas dari yang namanya guru, peran guru sangat menentukan apa nantinya dia akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat apa tidak. Kiyai Thobroni adalah seorang sosok yang sangat mengagungkan guru dan mentakdziminya. Beliau tidak pernah membedakan antara satu guru dengan guru yang lain, baik guru yang berguru langsung atau tidak. Ketakdziman kepada gurunya terbukti ketika beliau kedatangan para masyaikh Sidogiri. Beliau langsung cepat-cepat bersalin baju dengan memakai baju gamis yang bagus dan memakai Imamah (surban) dengan sempurna itu semua beliau lakukan karena untuk mengagungkan sang guru. Kiyai Thobroni walaupun sudah menjadi kiyai besar beliau selalu menunjukan sifat ketawaduannya. Jika dalam suatu acara beliau diminta untuk membaca doa beliau selalu enggan kalau di tempat itu bertepatan ada sang guru, atau masyaikh yang lebih sepuh darinya, hal itu beliau lakukan karena kerendahan hati beliau dan sifat ketawaduaan beliau yang ditunjukan kepada gurunya.
Dakwah Beliau di Tengah-tengah Masyarakat
Pada masa orde lama sampai orde baru terjadi pergerakan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang di mana pergerakannya sangat meresahkan masyarakat, dan juga dapat mengancam Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dengan ajarannya, PKI bergerak ke plosok desa-desa dengan menyamarkan diri dengan mengatasnamakan dirinya Partai Kiyai Indonesia untuk mendapatkan simpati dari masyarakat. Dengan berdalih bahwasanya dirinya adalah kelompok Kiyai Indonesia banyak masyarakat yang tertipu. Hal ini dapat mengahancurkan sendi-sendi Islam Ahlussunah wal Jama’ah yang telah dibangun oleh para Wali Songo dan para Ulama setelahnya, Islam yang sesuai dengan ajaran Rasulullah dan para Sahabatnya. PKI telah banyak bergerak merusak akidah masyarakat. Kiyai Thobroni merupakan salah satu dari Ulama Bangkalan bergerak hatinya untuk meluruskan paham-paham sesat PKI yang mereka tanamkan ke tengah-tengah masyarakat. Kiyai Thobroni bahkan bersama Kiyai Abdullah Schal Demangan Cicit Syaichona Cholil berjuang bersama-bersama menghapus kepercayaan masyarakat bahwa PKI adalah kelompok Kiyai Indonesia. Perjuangan Kiyai Thobroni bersama Kiyai Abdullah tidaklah mudah, banyak batu sandungan yang menghalanginnya. Bahkan mereka berdua pernah ditangkap karena berorasi begitu keras. Kiyai Thobroni terkadang sampai berhari-hari tidak pulang ke rumahnya di karenakan pada saat itu tidak ada kendaraan sebagai sarana beliau berdakwah. Kiyai Thobroni harus berjalan kaki berkilo-kilo ke plosok-plosok desa, hal ini beliau lakukan demi untuk menyelamatkan agama Islam dari paham-paham yang berusaha merusaknya. Tak ada keluh kesah yang beliau rasakan dalam berdakwah. Pahit manisnya beliau rasakan dengan ikhlas semata-mata hanya mengharap ridho Allah Swt.
Pandangan Putra-Putri Kiyai Thobroni
Kiyai Thobroni adalah pendidik sejati (Murobbil Kamil) baik dalam keluarga dan bagi para santrinya. Penanaman sebuah karakter yang kuat dan kepribadian yang baik adalah yang diajarkan beliau kepada Putra-putrinya, Kiyai Thobroni dalam mendidik putra-putri tidak banyak dengan sebuah ucapan, tapi beliau mendidik langsung dengan sebuah prilaku. Ketika menjadi pengasuh pesantren Kiyai Thobroni-lah yang langsung mengajar para santrinya,Tanpa ada tenaga pengajar dari manapun.”Aba kadintoh taktoman mundut guru tugas deri kadimma bi saos, walaupun aba monduk neng Sidogiri aba tak mundut guru tugas, benni aba kadinto lokpercajeh dek guru tugas,tapeh karena aba kadinto ngajerih potra-potrenah ka angguy mekker sopajeh tak nang tenang selama e delem masa belajar” (Ayah tidak pernah mengambil guru tugas darimanapun, walaupun ayah mondok di Sidogiri ayah tidak pernah mengambil guru tugas, bukan karena ayah tidak percaya dengan kemampuan guru tugas, tapi itu adalah sebuah pelajaran dari beliau untuk putra-putrinya supaya tidak bersantai-santai dalam masa belajar),”Kenang Kiyai Syaiful Qohhar putra bungsu beliau. “Bahkan ketika saya sedang liburan pesantren ayah sering menanyakan sampai dimana mata pelajaran yang telah dihafal baik Sorrofnya, Imrithi bahkan sampai Alfiyahnya. Jadi ketika saya akan pulangan pesantren adalah moment yang paling saya takutin karena nanti sampai di rumah pasti akan ditanyakan seperti itu, hari-hari liburan pun diisi Tanya jawab. Hal itu yang mendorong saya dan saudara-saudara untuk benar-benar belajar dan tidak bersantai-santai selama mencari ilmu,” Imbuh Kiyai Syaiful.
Hingga sampai saat ini yang meneruskan pondok pesantren peninggalan Kiyai Thobroni adalah Putra-putri dan cucu beliau yang turun langsung mengajar dan membimbing para santri.
Wafatnya Kiyai Thobroni
Malam Ahad 5 Shafar 1408 H/28 September 1987 M, langit mendung di daerah Sabeneh terdengar isak tangis ribuan manusia, berita wafatnya Kiyai Thobroni langsung terdengar menyebar luas. Seorang Kiyai yang dikenal sangat Wira’i dan penuh ketawaduan ini akhirnya dipanggil Tuhannya untuk menghadapnya. Mulai dari putra-putri, kerabat, santri-santri beliau, sampai masyarakat luas  berbondong-bondong datang ke Sabeneh untuk bertakziah menyaksikan pemakaman Sang Guru terakhir kali. Wafat sudah Sang pembimbing umat namun jasa-jasanya tetap akan dikenang sepanjang masa. Beliau dimakamkan di komplek pesantren Sabeneh yang sekarang dikenal dengan nama Pondok Pesantren Al Aziziyah Sabeneh. Semoga segala kesalahan beliau diampuni dan diterima segala jasa dan amal kebaikannya oleh Allah Swt.  Amin.

Oleh : Sutrisno Farizy_NH

LANCAR MENGOREKSI LUPA INTROPEKSI (ASCHAL Edisi 15)


Lancar Mengoreksi Lupa Intropeksi
Oleh M. Nurut Taufiq
Dinamika hidup cenderung lebih sering mencerminkan hal-hal yang berseberangan dengan kode etik adaptasi sosial. Secara tabi’at, manusia memang tidak dapat terlepas dari kesalahan. Karakter manusia sebagai makhluk yang dalam dirinya juga diikut sertakan yang namanya hawa nafsu lebih sering pula memiliki kecenderungan yang bertentangan dengan kebenaran yang implemintasikan melalui al-Qur’an dan Hadist. Imam Bukhari pernah mengutip perkataan Abu az-Zinad mengenai hal di atas yaitu
ان السنن ووجوه الحق لتأتي كثيرا على خلاف الرئي
Sesungguhnya mayoritas sunnah dan kebenaran bertentangan dengan pandangan pribadi
Oleh karenanya, upaya untuk meminimalisir tabi’at buruk manusia itu terus digencarkan oleh sebagian manusia yang lain yang ditandai dengan semaraknya beberapa karya ulama tentang kode etik manusia baik secara vertikal (kode etik antar manusia; hablun min annas) maupun secara horizontal (kode etik manusia dengan tuhannya; hablun min Allah).
Permasalahan yang dapat kita posisikan sebagai kebiasaan buruk sebagaimana pemaparan diatas diantaranya adalah kecenderungan kita menilai dan mengoreksi orang lain daripada mengaca dan menyadari kesalahan ataupun kekurangan pribadi. Lebih parahnya lagi, kebiasaan negative lebih sering mengoreksi kekurangan orang lain ini juga merembet pada hal-hal negative lain yang tak kalah buruknya seperti sifat munafik, ghibah dan beberapa penyakit lisan dan penyakit hati yang lain. rasionalisasinya adalah, budaya mengoreksi kesalahan orang lain ini akan menumbuhkan sifat antisipasi antara yang satu dengan yang lain. Sama-sama saling berusaha mengungkap kesalahan orang lain dan otomatis disertai usaha menutupi keburukan diri sendiri. Pada akhirnya kebiasaan buruk yang menyertai adalah dusta dan munafik. Sungguh kebiasaan yang mengerikan!
Berangkat dari pemaparan diatas, semestinya yang perlu dikoreksi terlebih dahulu adalah kekurangan diri sendiri. Secara aksiomatis (dlaruri) kita pun mengetahui bahwa kitaa adalah makhluk yang diasertai hawa nafsu dan tidak dapat terlepas dari kesalahan, keburukan dan kekurangan. Maka idealnya memang sering melakukan intropeksi terhadap diri sendiri sebelum mengoreksi kesalahan orang lain (ekstropeksi).
Intropeksi merupakan suatu proses mengamati diri sendiri; apakah yang dilakukan sudah benar, sudah baik, apakah kita sudah sukses dan beberapa bentuk pengamatan yang lain Evaluasi diri. Dalam bahasa arab sering disebut muhasabatu annafsi. Sayyidina Umar pernah menganjurkan untuk selalu melakukan intropeksi. Beliau mengatakan,
حاسبوا انفسكم قبل ان تحاسبوا
Hisablah diri kalian (intropeksi dirilah) sebelum kalian semua di hisab
Hal ini bukan berarti kita harus menghakimi diri sendiri dan menyalahkan diri pribadi melainkan sebuah upaya untuk legowo menyadari kekurangan dan kesalahan kita sehingga akan ada follow Up yang berupa usaha memperbaiki dan membenahi kekurangan tersebut.
Syaich Jamaluddin bin Muhammad al-Qasimy dalam bukunya, Mauidzatul Mu’minin yang diringkas dari Ihya’ ‘Ulumuddin-nya al-Ghazali menyampaikan bahwa ketika Allah menghendaki suatu kebaikan bagi hambanya maka Allah senantiasa memperlihatkan kepadanya kekurangan dirinya. Sesuatu yang dapat mengantarkan kita untuk mengetahui kekurangan diri sendiri sebagai sarana muhasabah antara lain adalah:
1.       Mencari seorang teman yang baik, jujur dan religius.
Sebagaimana orang bijak mengatakan bahwa teman yang baik bukanlah teman yang selalu membenarkan kita melainkan seorang teman yang selalu berkata jujur kepada kita. Mengatakan dengan sebenarnya bahwa yang kita lakukan adalah keliru bukan malah membenarkan kekeliruan yang kita lakukan. cara yang kedua ini banyak di aplikasikan oleh para sahabat. Sayyidina Umar bin Khattab pernah mengatakan “ semoga Allah memberikan rahmat bagi orang yang menunjukkan kekuranganku”.
2.       Mendengarkan Perkataan orang yang membenci kita
Dalam hal ini jelas bahwa orang yang tidak senang kepada kita itu lebih peka terhadap kekurangan dan kesalahan kita daripada seorang teman yang selalu memuji kita dan menutupi kekurangan kita sehingga dengan ini pula kita dapat mengetahui tumpukan kesalahan dan kekurangan kita. Akhirnya intropeksi diri.
3.       Berkumpul dengan orang lain
Tidak jarang kita menyadari bahwa yang kita lakukan itu salah setelah kita melihan kesalahan itu dilakukan oleh orang lain. ini adalah cara intropeksi sederhana yang dapat kita lakukan. Imam al-Ghazali pernah menyampaikan, “seandainya seseorang itu tidak melakukan sesuatu yang tidak disenanginya apabila dilakukan orang lain kepadanya, tentu tidak perlu belajar yang namanya etika”. Simpelnya, kalau kita tidak senang dimaki orang lain, janganlah kita senang memaki-maki orang lain.
Benang merah pemaparan diatas adalah hendaknya kita berperilaku bijak. Sebuah permasalahan yang seringkali muncul dalam kehidupan kita mestinya kita sikapi dengan bijaksana. jangan lantas kita menyalahkan siapa, barangkali kita yang perlu berbenah. memulai merubah situasi dengan melakukan intropeksi dan memperbaiki diri sendiri. Jangan malah lancar mengoreksi (orang lain) dan lupa intropeksi.


PEMILU, SISTEM NON ISLAM YANG ISLAMI (ASCHAL Edisi 15)


PEMILU,
Sistem Non Islam yang Islami
Oleh Mufti Shohib
Pemilihan Umum merupakan Proses pemilihan yang dilakukan oleh orang-orang untuk mengisi jabatan-jabatan politik tertentu termasuk juga prosesi pemilihan seorang presiden yang merupakan pimpinan tertinggi suatu negara. Dalam wacana syariah ada tiga mekanisme pemilihan yang ditampilkan dalam rangka Nashbul Imamah (suksesi kepemimpinan) yang pertama adalah bai’at. Sebagaimana diterapkan oleh para sahabat yang membai’at Abu Bakar untuk menjadi seorang pemimpin. Yang kedua adalah wasiat dimana seorang pemimpin menunjuk seseorang yang memiliki kapabilitas kepemimpinan untuk menjadi pemimpin setelahnya. Hal ini juga dipraktekkan oleh Sayyidina Abu bakar yang menunjuk sayyidina Umar sebagai khalifah. Dan yang terakhir adalah istila’u dzissyakah yaitu seseorang  muslim yang memiliki kekuatan menang dalam kepemimpinan.
Tiga wacana yang ditampilkan dalam syari’at ini mengindikasikan bahwa mekanisme yang terealisasi di Indonesia secara konsep tidak tercover dalam syari’at. Namun demikian hal pertama yang urgen untuk diketahui bahwa mengangkat seorang presiden (Nashbul Imamah) merupakan sesuatu yang Wajib demi terciptanya mashlahat universal dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal ini banyak sekali tertuang dalam berbagai literatur fiqih mu’tabarah sebagaiamana juga tertulis dalam kitab Raudlatut Thalibin karya Imam An-Nawawi. Oleh karenanya, ketika tiga konsep wacana syariat tentang mekanisme pengangkatan seorang imam tersebut tidak dapat terealisasi, sedangkan pengangkatan itu sendiri merupakan hal yang tidak dapat disangkal keharusannya, maka bagi rakyat boleh mengaplikasikan segala sistem demi terwujudnya tugas pokok yaitu Nashbul Imamah (suksesi kepemimpinan) yang sesuai dengan prinsip syariat (al-Mashlahat) termasuk juga juga mekanisme pemilihan secara langsung yaitu pemilu.
Kemudian terdapat beberapa hal yang menjadi keharusan rakyat sebagai seorang pemilih atau bahkan dalam sistem demokrasi dapat dikategorikan sebagai pemegang tunggal kekuasaan. Hal itu sebagaimana dikutip dari kitab Al- Ahkam As-Sultoniyah yang intinya adalah rakyat harus memiliki pengetahuan dan pandangan tentang siapa yang layak menyandang tugas sebagai seorang presiden. Rakyat harus memilik gagasan dan kebijaksanaan dalam menentukan sosok presiden yang betul-betul memiliki kapabilitas dan kualitas yang relevan menjadi seorang presiden dan tegas serta bijak dalam mengemban komitmen mewujudkan kemashlahatan. Oleh karenanya ketika misalnya di suatu wilayah ada dua calon presiden yang memiliki kualitas dibidangnya masing-masing, maka yang menjadi tolak ukur penentu pilihan adalah relevansi masing-masing dari keduanya dengan situasi dan kondisi wilayah tersebut. dalam artian, kalau misalnya calon yang pertama lebih dipercaya dalam mengemban amanah sedangkan calon yang kedua lebih tegas memberi keputusan maka yang diprioritaskan adalah relevansinya dengan kebutuhan wilayah itu.
Imam al-Mawardi dan Abu Ya’la berpendapat bahwa dalam hal ini yang diprioritaskan adalah tuntutan di masa itu. ketika yang dibutuh adalah sosok pemimpin yang tegas dan berani karena maraknya golongan pemberontak terhadap pemerintahan maka yang lebih berhak untuk dipilih adalah seorang presiden yang tegas dan begitu pula sebaliknya. Hal ini dijelaskan dalam kitab al-Imamatu al-Udzma hal 306-307.
Adapun permasalahan yang kian menjamur terlebih saat menjelang prosesi pemilu ialah mewabahnya pemberian dari oknum-oknum tertentu kepada rakyat. Tidak semua pemberi lantas memaparkan secara jelas maksud dan tujuan dari pemberiannya. Bahkan tidak sedikit yang berdalih bahwa pemberian itu sebatas hadiah dan lain sebagainya.
Dalam hal ini sudah jelas kiranya klarifikasi yang disampaikan Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin-nya sebagai berikut, “Orang yang memberikan kepada Orang Lain tidak lain pasti ada tujuannya. Namun tujuan pemberian itu adakalanya yang bersifat Ukhrawy seperti mengharap pahala, dan adakalanya bersifat duniawy. Sedangkan yang bersifat duniawy adakalahnya berbentuk materi, perbuatan, menolong atas tujuan tertentu, dan adakalanya dengan tujuan agar hati orang yang diberi senang kepada si pemberi, baik memang tujuan agar disenangi semata oleh orang yang diberi, maupun senangnya orang yang diberi dijadikan sebagai mediator (alasan) untuk mendapatkan tujuan tertentu dibelakangnya. Kesimpulannya ada lima bagian; ... bagian yang ke lima adalah tujuan si pemberi agar ditolong oleh orang yang diberi dengan melakukan perbuatan tertentu, ....- pemberian ini merupakan sebuah pemberian dengan syarat dibalas dengan balasan tertentu yang tujuan balasan itu dapat diketahui dari indikasi situasi dan kondisi. Maka telitilah maksud perbuatan yang berupa balasan dari pemberian ini. Apabila balasan yang dimaksud adalah perbuatan haram seperti usaha didalam melestarikan terus menerusnya perbuatan haram atau berbuat dholim kepada manusia atau yang lainnya, maka hukum mengambil pemberian tersebuat hukumnya haram. Dan jika hal tersebut merupakan sebuah kewajiban seperti menolak kedzaliman yang tertentu atas setiap orang yang mampu melakukannya, atau persaksian tertentu maka haram pula mengambilanya karna hal demikian termasuk praktek suap yang tidak diragukan lagi keharamannya”
Dari klarifikasi diatas dapat ditarik benang berah bahwa ketika ada seseorang menyodorkan pemberian dengan tujuan agar kita memilih seorang pemimpin yang tidak memiliki kapabilitas sebagai seorang pemimpin, meskipun tujuan pemberian itu tidak di ucapkan oleh pemberi, karena indikasi kondisi dan situasi sudah menunjukkan tujuan pemberian tersebut, maka hukum mengambilnya jelas haram. Dan hal itu di kategorikan risywah atau suap.
Kesimpulan dari pemaparan di atas adalah wajibnya umat muslim Indonesia memilih seorang presiden yang dapat mewujudkan perubahan tentunya dengan memilih seorang presiden yang memiliki kapasitas dan kapabilitas menjadi seorang pemimpin negara. Mekanisme pengangkatan yang di aplikasikan di Indonesia pun mendapatkan lampu hijau syari’at meskipun pada dasarnya tidak pernah tergambar dalam wacana Islam. Dan demi terciptanya perubahan menuju negara Indonesia yang lebih baik rakyat diharuskan untuk proaktif mengikuti prosesi pemilihan dengan memilih seorang calon yang berkompeten dan dianggap mampu mengemban amanah membawa Indonesia pada tahap perubahan yang lebih baik, dan larangan bagi rakyat mempraktekkan suap menyuap demi kemashlahatan Indonesia, Kemashlahatan hidup berbangsa dan bernegara, dan kemakmuran Indonesia.
Yang terakhir, bahwa krisis multidimensi yang melanda Indonesia adalah kesalahan kita bersama yang seringkali bersikap apatisme, tidak mau tahu persoalan negara dan tidak peduli terhadap “segalanya”. Perubahan itu rakyat yang menentukan. Presiden hanya sebagai pelaksana.!

KONSEP MEMPUNYAI ANAK SHALEH & KETAULADANAN NABI ISMAIL (ASCHAL Edisi 15)


Konsep Mempunyai Anak Shaleh & Ketauladanan Nabi Ismail
Oleh: Moh Ali Ghafir Addulkarimani*

Maha Besar Allah SWT yang telah menciptakan makhluk-Nya dengan beraneka macam. Makhluk yang berakal dan yang tak berakal, laki-laki dan perempuan, yang shaleh dan yang thaleh (yang jelek), dan banyak lagi macamnya.  Ada surga yang diperuntukkan untuk makhluk yang taat dan neraka diciptakan bagi yang durhaka pada-Nya. Maha Kuasa Dzat yang telah memberikan anak dan keturunan yang mukmin yang shaleh dan kafir. Nabi Adam alaihissalam yang berpangkat Nabi telah diberikan anak Qabil yang tergolong orang yang kafir, Kan’an putra Nabi Nuh alaihissalam ditakdirkan menjadi orang yang kufur. Azar ayahanda dari Nabi Ibrahim alaihissalam merupakan pembesar dan tokoh agama bagi orang yang menyembah berhala, namun anaknya menjadi salah satu Nabi Allah SWT. Semua orang pasti mendambakan mempunyai anak dan keturunan yang baik, membahagiakan, serta bermanfaat dan berkah. Karena calon-calon generasi muda yang baik akan menjadi pilar utama dalam menuju pintu kesuksesan sebuah bangsa, sebagaimana ungkapan sastrawan Syaikh Musthafa al-Ghalayaini, “Sesungguhnya ditanganmulah (kesuksesan) sebuah bangsa.”  Banyak cara yang dilakukan para nabi dan shalihin untuk memperoleh anak dan generasi muda yang qurratu a’yun (membikin kalbu bahagia). Mereka berusaha melalui taqarrub kepada Allah SWT (ibadah dan doa), pendidikan, nasehat-nasehat dan lainnya. Nabi Adam alaihissalam pada saat akan meninggalkan dunia yang fana ini, ia mengajari putra kesayangannya Nabi Syits alaihissalam tentang eksistensi dan kegunaan waktu siang dan malam. Mengajari cara-cara ibadah untuk memanfaatkan waktu-waktu tersebut serta ia telah memberitahu pada Nabi Syits alaihissalam bahwa akan terjadi tufan yang melanda umat. Dengan didikan yang mulia ini putranya menjadi salah satu nabi Allah SWT. Lain lagi cara yang dilakukan oleh Nabi Zakaria alaihissalam untuk mempunyai anak yang shaleh harus berusaha dengan maksimal. Ia sangat lama yang akan diberi keturunan oleh Allah SWT, namun tidak henti-hentinya selalu taqarrub dan berdoa pada Sang Maha Pencipta itu SWT. “Anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putra yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebagian keluarga Ya’qub, dan jadikanlah ia, ya Tuhanku seorang yang diridhai,” (QS; Maryam: 5-6). Itulah doa Nabi Zakaria alaihissalam yang selalu dilantunkan kepada Sang Maha Kuasa. Doa dan taqarrub  ini selalu dijalankan dengan tekun dan tak mengenal putus asa. Ada sebagian riwayat mengatakan bahwa ia baru diberi keturunan seorang putra yang bernama Yahya setelah berdoa selama empat puluh tahun, dan ada yang berpendapat selama enam puluh tahun. Setelah mendapat informasi bahwa ia akan diberi anak yang bernama Yahya alaihissalam, ia keluar ke Mihrabnya (tempat ibadah) dan menyuruh kepada umatnya untuk selalu bertasbih pada waktu pagi dan sore sebagai tanda bersyukur dan mendoakan sicabang bayi sebagai calon generasi muda yang tangguh itu. Berkat doa dan ketekunannya dalam beribadah maka Nabi Yahya alaihissalam sebagai putra Nabi Zakaria alaihissalam menjadi anak yang shaleh dan taat kepada Allah SWT, dan tidak pernah berinisiatif untuk melakukan dosa apalagi mengerjakannya.
Maryam ibunda Nabi Isa alaihissalam menjadi orang yang taat kepada Allah SWT, ia selalu bersujud dan rukuk (shalat) menyembah Sang Pencipta Allah SWT. Bahkan Malaikat Jibril memberi info padanya bahwa ia telah dipilih dan disucikan oleh Allah SWT. Dengan memperbanyak ibadah dan selalu mensucikan diri dari dosa, maka ia diberi seorang putra yang penjadi orang yang shaleh dan diangkat nabi oleh Allah SWT. Nabi Isa alaihissalam adalah seorang nabi yang memang diciptakan oleh Allah SWT tanpa mempunyai seorang ayah. Orang shaleh yang bernama Lukman radhiyallahu anhu selalu memberi nasehat kepada putranya yang bernama An’am. Ia berpesan agar tidak menjadi orang yang menyekutukan Allah SWT, selalu tekun melakukan shalat, menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar, serta selalu bersabar dalam menghadapi malapetaka yang menimpa. Dan ia mengajari etika yang baik, santun dalam ucapan dan sopan dalam tingkah lakunya. Sahabat Abu Bakar radhiyallahu anhu selalu berdoa, “Wa ashlih li fi dzurriyyati (shalihkanlah keturunan aku).” (QS; Al-Ahqaf: 15) Ia telah berhasil mendidik semua pura-putrinya, sehingga mereka memeluk agama yang dibawa oleh Kanjeng Rasul shallahu alaihi wa sallam dengan tulus. Bahkan kedua orang tuanya menjadi pemeluk agama Islam yang tidak pernah terjadi dan dialami oleh para sahabat yang lain. Nabi Ibrahim alaihissalam selalu berdoa kepada Allah SWT agar mempunyai keturunan yang shaleh. “Rabbi hab li mi al-Shalihiin (Ya Tuhan, berikan padaku anak yang shaleh),” (QS; Al-Shaffat: 100) itulah doa Nabi Ibrahim alaihissalam setiap saat. Selain itu, doa yang selalu dilantunkan adalah, “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan keturunanku menjadi orang yang tekun melakukan shalat, wahai Tukan kami, terimalah doa ini. Wahai Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua orang tuaku dan semua orang mukmin.” (QS; Ibrahim: 40) Nabi Ibrahim alaihissalam selalu tekun berdoa kepada Allah SWT dan baru dikaruniai seorang anak yang bernama Ismail alaihissalam setelah berumur seratus tujuh belas tahun. Menurut versi Ibnu Abbas ia dikaruniai Ismail alaihissalam setelah berumur sembilan puluh sembilan tahun dan diberi anak yang bernama Ishaq alaihissalam pada usia seratus dua belas tahun.
Dalam beberapa catatan referensi sejarah dijelaskan bahwa Nabi Ibrahim alaihissalam mempunyai banyak keturunan. Dari istri pertamanya yang bernama Sarah mempunyai putra yang benama Ishaq. Sebelum Ishaq kecil dilahirkan dari ibunya Sarah, Ismail telah lahir tiga belas tahun yang lalu. Ibu dari Ismail adalah Hajar al-Qibtiyah al-Mishriyah, ia menjadi istri Nabi Ibrahim alaihissalam dengan restu dan pemberian istri pertamanya yang bernama Sarah. Dari istrinya yang bernama Qanthura, Ibrahim dikaruniai anak sebanyak enam, sedangkan Hajun setelah dikawininya mempunyai anak lima. Kitab sejarah sangat pelit menginformasikan nama-nama anak tersebut. Dari sekian banyak anak yang ada, anak yang terkenal dan termulia adalah Ismail dan Ishaq, karena kedua orang ini diangkat menjadi nabi dan rasul oleh Allah SWT.
Nabi Ismail bin Ibrahim merupakan salah satu putra Ibrahim yang banyak mempunyai sifat-sifat yang mulia yang termaktub dalam al-Qur’an. Hal ini tidak lepas dari taqarrub ayahnya Ibrahim melalui ibadah, pendidikan yang diberikan, dan doa kepada Allah SWT semata. Dialah seorang penyabar, bersifat halim, sifat ini diekspresikan pada saat sang ayahnya melaksanakan perintah penyembelihan. Demi sam’an wa tha’atan kepada Allah SWT dan orang tuanya dia langsung mengatakan, “Ya abati if’al maa tu’maru (wahai ayahku, laksanakanlah sesuatu yang diperintahkan!)”.  Dilihat dari ilmu gramatika Arab, sighat if’al (kerjakanlah) merupakan bentuk amar yang makna hakikinya adalah perintah dan wajib. Ucapan ini menjadi indikator bahwa Ismail kecil sangat menyetujui dan taat menjalankan perintah Allah SWT dan ayahnya. Yang tidak boleh terlupakan, sebelum ayahnya melaksanakan perintah suci itu, Ismail berwashiyat pada ayahnya. Pertama: “Kuatkan tali yang dibuat mengikatku, agar aku tidak dapat bergerak!” Pesan ini sangatlah berarti, karena menunjukkan ke-tawakkal-annya, dan sifat taat yang memuncak. Kedua: “Hindari bajumu dari percikan darahku, khawatir menjadi penyebab berkurangnya pahalaku, dan takut terlihat ibu akhirnya ia merasa duka yang mendalam!” Dari ungkapan ini terlihat sifat sopan Ismail yang tidak ingin menyakitkan sang ayah atau orang lain karena bajunya kotor, dan tidak mau membuat sang ibu duka terlalu lama, selain itu ia tidak ingin amalnya tersia-sia dan tidak mengandung pahala. Ketiga: “Tajamkanlah pisaumu, dan percepat jalannya di tenggorokanku agar aku cepat mati!”  Secara tidak langsung, ungkapan ini menjadi pelajaran bagi kita, agar tidak menyiksa hewan sembelihan dengan cara pisaunya ditajamkan, dan Ismail berkeinginan perintah suci ini cepat selesai dilaksanakan. Keempat: “Apabila Anda bertemu ibu, sampaikanlah salamku!” Doa sang ibu sangat berharga bagi Ismail, biarpun dirinya sudah meninggalkannya untuk selamanya, namun doa orang tua diharapkan terus berlanjut sebagaimana ia masih hidup. Kelima: “Apabila Anda ingin mengembalikan pakainku pada ibu, lakukanlah, barangkali hal itu menjadi media baginya untuk melupakanku!” Kata-kata ini sangat menyentuh pada hati, umpama Ismail sudah tiada dan meninggalkan orang tua selamanya, pada suatu saat sang ayah dan ibu merindukannya, dapat melepas ingatan dan kerinduan dengan cara melihat baju peninggalannya.
Seorang putra al-Kholil yang diberi gelar ghulam halim dalam kitab al-Qur’an merupakan sosok seorang yang mempunyai peninggalan yang sangat bersejarah. Dialah orang pertama kali yang dapat meluluhkan kuda dan dapat dibuat alat transportasi yang semula tergolong hewan gesit dan buas. Sebagaimana yang telah disabdakan oleh Kanjeng Rasul yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar, “Ambillah kuda itu dan tahanlah (peliharalah)! Karena kuda itu adalah peninggalan bapakmu Ismail.” Pada usia empat belas tahun Ismail kecil sudah bisa berkomunikasi dengan bahasa Arab fushha dan balighah. Dan dialah yang pertama kali menggunakan bahasa yang fushha itu. Ismail dikaruniai dua belas putra dari istrinya yang bernama Sayyidah binti Madhadh bin Amrin. Beliau wafat dalam usia 137 tahun dan dikuburkan dekat ibunya Hajar di Desa Hajar. Wallahu a’lam.
*Penulis adalah Dosen STAI Syaichona Moh. Cholil Bangkalan